Senin, 21 Maret 2011

kemampuan belajar mandiri


Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 1 of 9
KEMAMPUAN BELAJAR MANDIRI DAN FAKTOR-FAKTOR PSIKOSOSIAL
YANG MEMPENGARUHINYA: KASUS UNIVERSITAS TERBUKA
Wahyuni Kadarko
Pendahuluan
Pada saat ini, dunia pendidikan tinggi di Indonesia masih diwarnai oleh model
pendidikan konvensional. Situasi ini berpeluang menimbulkan suatu kepincangan sosial
ditinjau dari potensi sumber daya manusia yang ada, kondisi geografis Indonesia yang
luas dan berbentuk kepulauan, dan kompleksitas dampak perubahan. Kepincangan
tersebut adalah daya tampung yang terbatas, tidak demokratis, dan menghambat proses
perubahan sosial. Untuk itu, diperlukan suatu reformasi pendidikan yang mengarah
pada promosi egalitarisme dan demokrasi, yaitu suatu sistem pendidikan massal dan
bukan pendidikan elitis.
Universitas Terbuka (UT) merupakan salah satu perwujudan dari idealisme tersebut,
yaitu terciptanya pemerataan pendidikan dalam arti sosial, politik, ekonomi dan
geografis yang mampu menyentuh kelompok marjinal secara nyata. Dalam pelaksanaan
pendidikan, UT menganut model pendidikan nonkonvensional (nontradisionaal) dengan
sistem "terbuka", merupakan satuan pendidikan tinggi dengan sistem belajar jarak jauh
(distance learning) dan menerapkan cara belajar mandiri (individual learning). Di
samping itu, saat ini UT juga mengemban tugas meningkatkan tenaga terdidik yang
tersebar di seluruh Indonesia guna dapat melanjutkan pendidikannya sambil bertugas,
serta memperluas daya tampung PTN sehingga sejauh mungkin menjangkau calon
mahasiswa dari seluruh tanah air termasuk mereka yang baru lulus SMTA (Statuta UT,
1992).
Berdasarkan pengalaman, penerapan model pendidikan ini belum memperlihatkan hasil
yang memuaskan. Hasil penelitian membuktikan bahwa prestasi belajar yang dapat
dicapai relatif rendah dan sebagian besar mahasiswanya masih mengharapkan jasa
pihak lain seperti tutor atau guru bimbingan dalam menghadapi tugas-tugas perkuliahan
di UT (Kadarko, 1992). Dalam Seminar Prospek UT disampaikan bahwa masalah
pokok dari keadaan tersebut adalah ketidaksiapan mahasiswa UT mengantisipasi
perubahan cara belajar yang didasari prinsip kemandirian dan kebiasaan membaca
(Muis, 1987).
Apabila dikaji kembali, masalah ini timbul akibat ketidakmampuan mahasiswa UT
beradaptasi dengan perubahan mandat, teknologi dan budaya model pendidikan
nonkonvensional, yaitu (a) perubahan model belajar dari terpimpin menjadi independen,
(b) perubahan model komunikasi belajar dari tatapmuka menjadi jarak jauh, (c)
perubahan metode penyampaian materi dari lisan menjadi tertulis, dan (d) perubahan
lingkungan belajar dari campus-based study menjadi home-based study. Akibatnya,
teknologi instruksional yang dilandasi nilai dan asumsi yang berlaku tentang cara
belajar dengan modul dalam sistem perkuliahan jarak jauh masih sulit diadopsi karena
belum dihayatinya metode cara belajar secara mandiri berbasis rumah.
Hal lain yang diidentifikasi sebagai masalah adalah faktor-faktor psikososial yang
diduga mempengaruhi kelangsungan proses belajar mahasisiwa UT. Sistem terbuka
memudahkan intrusi berbagai faktor psikososial terhadap proses belajar yang dijalani
mahasiswa UT pada umumnya. Keadaan ini berdampak pada ketidakmampuan
mengkoordi-nasikan aspek psikososial seperti keluarga, pekerjaan/tugas, fungsi sosial,
lingkungan sosial, dan lain sebagainya sehingga cenderung menimbulkan konflik antara
kebutuhan dengan komitmen sosial (Schuemer, 1993).
Penelitian yang mendasari makalah ini mencoba mengangkat masalah-masalah diatas
dengan harapan dapat diperoleh satu solusi atas masalah belajar yang dihadapi
mahasiswa UT, dan sumbang saran serta gagasan bagi penyempurnaan metode belajar
mandiri dalam sistem pendidikan jarak jauh di Indonesia khususnya UT.
Deskripsi Teoritis, Kerangka Berpikir dan Perumusan Hipotesis
Deskripsi Teoritis
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 2 of 9
Penelitian ini dilandasi tradisi teori-teori perkembangan yang mampu mempengaruhi
pelaksanaan proses belajar jarak jauh dan pendidikan orang dewasa, yaitu teori
perkembangan mental dan relevansinya dengan cara belajar orang dewasa. Secara lebih
luas penelitian ini banyak membahas teori-teori tentang intrusi faktor-faktor psikososial
pada kelompok orang dewasa, teori-teori kognitif strukturalis dalam konteks
perkembangan mental orang dewasa, dan teori-teori tentang belajar mandiri dalam
konteks sistem belajar jarak jauh.
1. Pendekatan Psikosiosial
Pendekatan ini menyarankan bahwa individu berkembang secara kronologis serta sangat
dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan budaya dimana dia hidup ( Erikson, 1968;
Marland, 1989).
Atas dasar tersebut, penelitian ini berupaya mengungkapkan pengaruh psikososial
terhadap proses belajar seseorang yang terjadi dalam suasana "terbuka", jarak jauh, dan
mandiri. Dalam proses belajar yang berlangsung secara wajar, seringkali terjadi
peristiwa yang kontradiktif antara sukses dan gagal, berminat dan apatis, tekun dan
malas, konsisten dan tidak konsisten, mampu dan tidak mampu, disiplin dan tidak
disiplin, dan seterusnya. Menurut teori perkembangan mental, keadaan ini diduga akibat
adanya berbagai proses mental yang terjadi pada diri seseorang yang disebut sebagai
dorongan, kebutuhan, keinginan, dan motif. Hal tersebut merupakan faktor determinan
yang menentukan perilaku belajar orang dewasa. Dalam perkembangan selanjutnya,
proses mental ini akan dipengaruhi oleh berbagai faktor psikososial seperti lingkungan
sosial, budaya konvensional, sumber belajar, dan pengalaman.
2. Pendekatan Kognitif-strukturalis
Pendekatan ini berangkat dari ide Piaget sebagaimana dikutip Henderson (1983) dan
sangat erat kaitannya dengan kemampuan individu memproses informasi yang diterima,
yaitu bahwa (a) struktur kognitif sangat ditentukan oleh pola perilaku (gaya) berpikir,
(b) perkembangan mental merupakan hasil interaksi antara individu dengan
lingkungannya, dan (c) perkembangan mental seseorang bergerak secara progresif
melalui tahapan yang merupakan suatu garis kontinum yang bergerak secara hirarkis di
mana setiap tahapan mewakili cara berpikir yang berbeda.
Struktur kognitif yaitu organisasi, kejelasan dan stabilitas pengetahuan yang dimiliki
seseorang sangat menentukan proses belajar selanjutnya, yakni yang berkaitan dengan
belajar bermakna. Karena itu, kemampuan memproses informasi sangat penting dalam
penerapan praktek belajar mandiri.
3. Belajar Mandiri
Belajar mandiri dalam konteks sistem belajar jarak jauh berdampak pada penggunaan
media belajar. Mediasi bertujuan (a) membebaskan mahasiswa dari pola perkuliahan
reguler, (b) membuka kesempatan belajar sesuai kemampuan, dan (c) membangun suatu
pola instruksional yang membimbing mahasiswa melaksanakan self directed learning
(Wedemeyer, 1979).
Self directed learning mempunyai peran sebagai pemandu perkembangan aktivitas
kognitif, di mana perkembangan tersebut akan dipengaruhi oleh pola perilaku sesuai
tingkat kematangan (kedewasaan) yang dicapai seseorang (Biggs, 1978). Ramsden dan
Entwistle (1981) menerjemahkan pola perilaku tersebut melalui tiga pendekatan belajar
atau orientasi belajar, yaitu (a) pendalaman materi, sebagai suatu cara belajar yang
berorientasi mencari makna, mempertanyakan argumen penulis, menghubungkan
pengetahuan awal dengan pengalaman belajar, mencari kebenaran atas kesimpulan yang
dibuat, (b) reproduksi, sebagai suatu cara belajar menghafal bagian-bagian yang penting
untuk direproduksi sebagai pengetahuan, dan (c) prestasi, suatu cara belajar yang
menekankan pengaturan strategi untuk mecapai tujuan belajar, antara lain mengatur
strategi untuk mencapai prestasi, membangun organisasi (disiplin) belajar, dan
memfokuskan pada tujuan.
Di samping orientasi belajar, strategi belajar juga merupakan pemandu perkembangan
proses belajar, di mana perkembangan ditentukan melalui tahapan-tahapan yang
mewakili cara berpikir yang berbeda. Strategi belajar diterjemahkan melalui penerapan
gaya belajar dalam mengolah informasi (information processing) dan mencegah
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 3 of 9
timbulnya patologi (kebiasaan buruk) yang menghambat proses belajar (Pask, 1977).
Secara genetik, gaya seseorang dalam memproses informasi terbagi dalam dua
kelompok, yaitu holis dan serialis. Kelompok holistik cenderung mengikuti prosedur
belajar komprehensif yang mengarah pada hipotesis kompleks, sedangkan kelompok
serialis (partiest) cenderung mengikuti gaya belajar tahap demi tahap yang mengarah
pada hipotesis sederhana (Pask and Scott, 1972). Dalam penerapannya, pembelajar
sekaligus dituntut untuk (a) menerapkan kedua gaya tersebut dengan tujuan penguasaan
materi secara tuntas, dan (b) mencegah hal-hal yang dapat menghambat proses belajar
atau membasmi patologi belajar, yaitu meninggalkan praktek cara membaca cepat dan
sepintas (globetrotting) dan meninggalkan cara membaca yang terpaku pada detil
(improvidence) (Pask, 1977; Ramsden and Entwistle, 1981).
Determinan yang juga berperan dalam perkembangan proses belajar mandiri adalah
konsep diri. Konsep diri berperan dalam menentukan daya tahan (resistance) seseorang
dalam belajar (Marland, 1989). Penelitian yang dilakukan Asprer (1980) terhadap para
mahasiswa St. Louis di Filiphina mengungkapkan bahwa persepsi yang benar tentang
lingkungan akademik yang berlaku akan menghasilkan konsep diri yang lebih mantap,
di mana selanjutnya konsep diri akan menjadi awal dari kemampuan seorang mahasiswa
dalam (a) memelihara konsistensi dalam belajar, (b) menerjemahkan pengalaman secara
positif dan (c) membangun kepercayaan untuk menggantungkan harapan atas sebuah
cita-cita.
Berdasarkan kajian teori di atas, maka penelitian ini berfokus pada lingkungan
psikososial yang melatarbelakangi kehidupan mahasiswa UT dan perkembangan
struktur kognitif dalam penerapan self directed learning.
Kerangka Berpikir
Penelitian ini bertitik tolak dari praduga bahwa faktor-faktor psikososial dapat
memberikan pengaruh yang nyata terhadap kualitas proses belajar di mana kualitas ini
diterjemahkan sebagai kemampuan menerapkan self directed learning (dalam penelitian
ini digunakan istilah Kemampuan Belajar Mandiri). Kemampuan tersebut dibangun
melalui variabel-variabel orientasi belajar, strategi belajar dan persepsi tentang
lingkungan akademik nonkonvensional (Tabel 1).
Faktor-faktor psikososial meliputi berbagai aspek kehidupan di seputar kehidupan
mahasiswa UT yaitu faktor-faktor yang secara potensial mampu menimbulkan konflik
antara kebutuhan dan komitmen, seperti kematangan diri, lingkungan keluarga,
motivasi, pekerjaan, pengalaman, lingkungan sosial, waktu luang, aktivitas sosial dan
kegiatan belajar. Untuk memperoleh hasil penelitian yang implikatif, maka hanya
faktor-faktor yang dianggap relevan dengan masalah kualitas belajar yang digunakan
yaitu usia, pekerjaan, latar belakang pendidikan dan wilayah tempat tinggal.
Rumusan Hipotesis
1. Kemampuan mahasiswa UT menerapkan konsep belajar mandiri sama dengan
atau lebih kecil dari skor standar kemampuan belajar mandiri (>75%);
2. Terdapat perbedaan kemampuan belajar mandiri yang nyata antarkelompok
variabel usia, status pekerjaan, latar belakang pendidikan dan wilayah tempat
tinggal;
3. Kelompok mahasiswa dewasa dengan status bekerja dan bertempat tinggal di kota
besar mempunyai kemampuan belajar mandiri yang lebih baik dibanding
kelompok lain;
4. Terdapat interdependensi antara persepsi tentang lingkungan akademik
nonkonvensional dengan pendekatan belajar yang ditempuh;
Metodologi Penelitian
Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeteksi distribusi nilai kemampuan
belajar mandiri mahasiswa UT, mengidentifikasi faktor-faktor psikososial yang
mempunyai keterkaitan dengan kemampuan belajar mandiri, mengidentifikasi
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 4 of 9
karakteristik mahasiswa UT yang mampu melaksanakan praktek belajar mandiri, dan
mendeteksi hubungan antar-variabel kemampuan belajar mandiri.
Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel
Populasi penelitian adalah mahasiswa UT. Sebanyak 540 sampel ditarik dari populasi
dengan metode penarikan secara acak dan bertingkat. Data diperoleh melalui survai atas
540 responden melalui kuesioner. Responden dikategorikan ke dalam tiga kelompok
wilayah, yaitu DKI Jakarta (ibukota negara), Kotamadya Ujung pandang (ibukota
propinsi) dan beberapa kecamatan di wilayah pedesaan di bekas Karesidenan Bandung
dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Survai dilakukan antara bulan Oktober – Januari
1993.
Tabel 1. Kisi-kisi Pengembangan Kuesioner
Kemampuan Belajar Mandiri*)
*) diadaptasi dari Ramsden dan Entwistle (1981)
Instrumen Penelitian
Kuesioner dirancang dengan memperhatikan aspek teknis dan kultural. Pendekatan
teknis berkutat pada segi operasionalisasi metode belajar mandiri ditinjau dari dimensi
praktis, yaitu merujuk pada orientasi dan strategi dalam mempelajari modul berbentuk
bacaan (teks). Pendekatan kultural berkutat pada penghayatan nilai-nilai yang
terkandung dari model pendidikan nonkonvensional (Tabel 1).
Variabel Penelitian
Faktor-faktor psikososial sebagai variabel bebas terdiri atas usia, status pekerjaan, latar
belakang pendidikan dan status wilayah tempat tinggal. Kemampuan belajar mandiri
sebagai variabel terikat terdiri atas (a) pemahaman, (b) reproduksi, (c) prestasi, (d)
strategi dan (e) persepsi terhadap lingkungan akademik nonkonvensional yang
dioperasionalkan ke dalam 7 variabel (Tabel 1).
Pengujian Hipotesis
Teknik analisis yang digunakan adalah analisis skor-Z, analisis variansi, uji Student-t
dan uji Kai Kuadrat pada taraf nyata 0.05.
Uji Z dilakukan untuk melihat distribusi nilai kemampuan belajar mandiri dibandingkan
dengan skor standar yang telah ditentukan. Uji F dilakukan untuk mencari perbedaan-
perbedaan kemampuan belajar mandiri antar kelompok variabel bebas. Uji Student-t
dilakukan untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki kemampuan belajar
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 5 of 9
mandiri tertinggi di antara kelompok variabel bebas yang diteliti. Uji Kai-Kuadrat
dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat interdependensi antara variabel persepsi
terhadap lingkungan akademik nonkonvensional dengan orientasi atau pendekatan
belajar yang ditempuh. Analisis frekuensi terhadap distribusi kemampuan belajar
mandiri dan persepsi juga dilakukan sebagai pelengkap.
Analisis Data dan Temuan Penelitian
1. Hasil analisis skor-Z pada taraf nyata 5% menunjukkan bahwa skor kemampuan
belajar mandiri yang dicapai responden tidak sama dengan skor baku 72 dengan asumsi
bahwa standar minimal nilai Kemampuan Belajar Mandiri adalah 75% dari nilai
maksimal 96.
Hasil analisis rata-rata populasi menunjukkan nilai Zhitung (-8,48) berada di luar wilayah
penerimaan (<-2,264 dan >2,264). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan belajar
mandiri mahasiswa UT berada di bawah standar yang digunakan (Hipotesis 1 diterima)
atau mahasiswa UT belum melakukan pendekatan belajar yang berlaku di lingkungan
akademik nontradisional. Keadaan ini merupakan gambaran akan ketidakmampuan
menterjemahkan tradisi serta ide sebuah universitas terbuka seperti kemandirian dan
sistem belajar jarak jauh (nontatapmuka). Akibatnya prosedur belajar yang seharusnya
merupakan gabungan antara pendekatan teknis dan kultural tidak mampu dijalankan.
2. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa usia, status pekerjaan, status wilayah tempat
tinggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap kemampuan belajar mandiri.
Secara sendiri-sendiri, hasil analisis variansi menunjukkan terdapat perbedaan
kemampuan belajar yang nyata antarkelompok usia, status pekerjaan, dan status wilayah
tempat tinggal, tetapi tidak terdapat perbedaan kemampuan belajar yang nyata di antara
kelompok latar belakang pendidikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor
usia, status pekerjaan dan status wilayah tempat tinggal memberikan sumbangan yang
nyata terhadap variansi kemampuan belajar mandiri, yaitu kemampuan menerapkan
orientasi dan strategi dalam mempelajari modul serta kemampuan memahami
lingkungan akademik nonkonvensional (Hipotesis 2 diterima). Selanjutnya secara
bersama-sama, faktor-faktor psikososial memberikan pengaruh yang nyata terhadap
kemampuan belajar mandiri. Dengan demikian faktor-faktor psikososial yang
melatarbelakangi perkembangan proses belajar mandiri yang berlangsung dalam
suasana ‘terbuka’, mandiri, jarak jauh dan independen mempunyai peran yang besar
terhadap keberhasilan belajar di UT. Perbedaan latar belakang pendidikan (X3) tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap seluruh variabel Kemampuan Belajar
Mandiri yaitu, pemahaman, reproduksi, prestasi, strategi, dan persepsi.
Tabel 2. Hasil Analisis Variansi Antara Variabel-Variabel
Latar Belakang Psikososial (Y) vs Variabel-Variabel
Kampuan Belajar Mandiri (X)
Ini menunjukkan bahwa dalam konteks penelitian ini, latar belakang pendidikan tidak
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 6 of 9
mempunyai peranan yang cukup berarti, baik terhadap pola pendekatan dalam belajar
maupun terhadap persepsi tentang lingkungan akademik nonkonvensional.
3. Pooled estimate of variance
Pooled estimate of variance melalui uji Student-t menunjukkan bahwa nilai kemampuan
belajar mandiri kelompok usia > 40 tahun yang mempunyai pekerjaan tetap dan
bertempat tinggal di wilayah urban lebih tinggi dibandingkan kelompok lain (Tabel 3).
Tabel 3. Pendugaan Antar-Kelompok Variabel
dengan Uji Student-t
Temuan ini menunjukkan bahwa sebuah universitas terbuka seperti UT lebih sesuai bagi
kelompok orang dewasa yang mempunyai komitmen dengan pekerjaan dan tugas.
Besarnya kontribusi tersebut bersumber pada asumsi sosial-psikologis dari kelompok
yang sudah bekerja, yaitu (a) keterikatan dan tanggung jawab pada pekerjaan atau tugas,
(b) relevansi antara mata kuliah dengan karier, jabatan atau kegiatan sehari-hari, dan (c)
kejelasan tujuan dan target belajar serta standar akademik.
Faktor-faktor ini mendorong kelompok dewasa memanfaatkan keuntungan sistem
perkuliahan model nonkonvensional, seperti adanya kebebasan (kalender) akademik,
waktu dan tempat perkuliahan (kelas), media, tidak ada batasan usia, status sosial,
batasan administratif, hambatan politis dan batasan geografis.
Di lain pihak, bagi kelompok lulusan SLTA, keuntungan tersebut makin menjadikan
beban dan tanggung jawab yang berat, karena dirasakan waktu belajar banyak tersita
hanya untuk membaca, tujuan yang belum jelas dan perasaan terisolasi (Ramsden,
1979).
4. Uji Kai-kuadrat menunjukkan bahwa terdapat interdependensi yang nyata antara
beberapa variabel persepsi tentang lingkungan akademik nonkonvensional
(nontradisional) dengan orientasi belajar.
Terdapat interdependensi antara belajar yang berorientasi pada pemahaman materi
dengan relevansi vokasional antara belajar yang berorientasi pada reproduksi dengan
beban belajar atau bacaan dan antara belajar yang berorientasi pada prestasi dengan
kejelasan tujuan dan standar (Tabel 4).
Tabel 4. Hasil Uji Kai-Kuadrat Orientasi Belajar Vs. Subvariabel Persepsi
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 7 of 9
Hasil uji di atas menunjukkan bahwa dalam mempraktekkan belajar mandiri kelompok
yang menempuh pendekatan pemahaman materi (meaning oriented) berpendapat bahwa
tujuan belajar adalah mendalami suatu cabang ilmu pengetahuan sesuai dengan minat,
pekerjaan, tugas, maupun profesi yang ditekuni. Kelompok yang menempuh pendekatan
reproduksi materi (reproduction oriented) berpendapat bahwa belajar terasa sangat
melelahkan dan membosankan karena sarat dengan tugas-tugas bacaan yang harus
dihafal karena keterikatan pada silabus. Sedangkan kelompok yang hanya mengejar
prestasi (achievement oriented) berpendapat bahwa yang penting adalah mampu
memanfaatkan sumber-sumber belajar secara maksimal untuk mencapai tujuan, yaitu
penyelesaian tugas-tugas perkuliahan dan pengakuan formal yang berguna bagi
peningkatan karier atau promosi.
Selain itu, terlihat tidak ada saling ketergantungan antara strategi belajar dengan metode
pengajaran nonformal. Ternyata strategi belajar, yaitu gaya belajar (holistik dan
serialistik) dan pencegahan patologi belajar (globetrotting dan improvidence) tidak
mempunyai hubungan yang signifikan dengan penerapan belajar mandiri. Hal ini
membuktikan bahwa teknik membaca para mahasiswa UT masih kurang canggih.
5. Distribusi data hasil pengukuran persepsi tentang lingkungan akademik
nonkonvensional (nontradisional) menunjukkan bahwa 15,4% responden menjawab
sangat setuju, 24,4% menjawab setuju, 39,4% responden menjawab tidak setuju, dan
20,8% responden menjawab sangat tidak setuju.
Temuan ini membuktikan bahwa kognisi tentang sistem perkuliahan nonkonvensional
masih rendah. Interprestasi dari temuan ini adalah bahwa sistem perkuliahan di UT
dianggap tidak berbeda jauh dengan sistem universitas konvensional, yaitu bahwa
kelompok ini masih mendambakan pertemuan tatapmuka dengan ‘dosen’, belum mampu
memanfaatkan media instruksional dalam pelaksanaan belajar mandiri, masih ingin
meluangkan waktu untuk bersosialisasi di kampus, dan tidak melihat pentingnya
dukungan sumber belajar lain seperti media. Perilaku yang demikian ini menunjukkan
bahwa kelompok ini belum mempunyai konsep yang jelas tentang lingkungan akademik
nonkonvensional.
Keadaan ini bersumber dari langkah-langkah ‘deregulasi akademik’ yang diberlakukan
di UT, yaitu cenderung memberlakukan praktek konvensional dalam kegiatan belajar.
Misalnya, kemiripan praktek tutorial dengan kuliah tatapmuka, kehadiran suasana
kampus konvensional, dan peranan multi-media belum dimanfaatkan secara maksimal.
Akibatnya kelompok ini makin berpeluang menghayati hakikat sistem perkuliahan yang
dilandasi asas kemandrian, ‘jarak jauh’, dan dukungan sumber belajar (media belajar).
Temuan ini memberikan implikasi akan pentingnya pembakuan sistem perkuliahan UT
dalam konteks sistem pendidikan nonkonvensional (jarak jauh) yang menekankan
keseimbangan antara sikap dan perilaku belajar mandiri, lingkungan akademik
nontradisional, dan dukungan sumber belajar (media) belajar.
Kesimpulan, Implikasi dan Saran
Kesimpulan
Sebagian besar mahasiswa UT belum mampu menerapkan self-directed learning yang
melandasi penerapan konsep belajar mandiri sistem perkuliahan jarak jauh (nilai rata-
rata kemampuan belajar mandiri jarak jauh di bawah skor baku, yaitu 75% nilai
maksimum). Hal ini menujukkan bahwa pada umumnya mahasiswa UT belum
menghayati hakikat lingkungan akademik nonkonvensional (nontradisional) dalam
upaya membangun persepsi yang benar tentang lingkungan akademik nonkonvensional.
Kelompok ini belum mampu melakukan perubahan sikap dan perilaku belajar dari sikap
dan perilaku belajar tradisional yang berbasis kampus (campus based) menjadi sikap da
perilaku nontradisional dengan basis rumah (home based study). Kesulitan belajar masih
merupakan kendala utama bagi mahasiswa UT, terutama kelompok lulusan SLTA,
karena sama sekali di luar paradigma pendidikan orang dewasa (andragogik) yang
melandasi sistem pendidikan sebuah UT. Faktor-faktor psikososial, yaitu tingkat
kematangan (kedewasaan), status pekerjaan, dan status wilayah tempat tinggal
tampaknya mempunyai peranan yang menentukan dalam pengembangan self-directed
learning.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa menjalani kuliah/studi di sebuah UT tidak
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 8 of 9
cukup hanya ditegakkan melalui pendekatan teknis, yaitu teknik penguasaan materi
perkuliahan melalui prosedur yang sudah diatur. Tetapi, hendaknya digunakan juga
pendekatan kultural melalui penghayatan nilai-nilai budaya sebuah universitas
nonkonvensional.
Implikasi
Hasil penelitian memberikan implikasi akan pentingnya peninjauan kembali (a)
kebijaksanaan institusional yang melibatkan kepentingan kelompok orang muda dan
konsistensi sistem pendidikan dalam rangka menghilangkan kesan standar ganda yang
dianut UT dalam pelaksanaan pendidikan, (b) peninjauan kembali metode instruksional
untuk meningkatkan kualitas belajar mahasiswa, dan (c) peninjauan kembali desain
kurikulum yang dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif.
Saran-saran
Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang membawa misi pemerataan pendidikan serta
berpegang pada paradigma pendidikan untuk orang dewasa, maka disarankan hal-hal
sebagai berikut:
a. Hendaknya UT mensosialisasikan sikap dan perilaku belajar sesuai dengan
lingkungan akademik nonkonvensional, berdasarkan temuan adanya keterkaitan
antara persepsi dengan pendekatan belajar, dalam rangka mengembangkan citra
UT sebagai satu-satunya PTN nonkonvensional.
b. Memberikan bantuan yang nyata dalam rangka mengatasi kesulitan belajar
terutama kelompok mahasiswa muda (lulusan SLTA), karena penerapan metode
instuksional yang dirancang berdasarkan asumsi andragogik bagi kelompok yang
masih memerlukan penanganan berdasarkan asumsi pedagogik secara moral
kurang dapat dipertanggungjawabkan. Bantuan tersebut dapat melalui program
bimbingan learning how to learn melalui peningkatan kemampuan belajar mandiri
berdasarkan konsep self-directed learning dan membangun persepsi yang benar
tentang lingkungan akademik nonkonvensional.
c. Untuk memperluas jangkauan generalisasi dan prediksi, perlu dilakukan penelitian
lanjutan yang melibatkan variabel-variabel yang belum tercakup dalam penelitian
ini, dan perlu dibuat alternatif penelitian dengan metode kualitatif-etnografis
terutama menyangkut sikap dan perilaku mahasiswa (consumer’s psychology),
karena masih banyak fenomena yang tidak dapat ditangkap melalui indera
kuantitatif.
Referensi
Asprer, Y.M.M. (1980). The self-concepts as a Filipino self-social construct:
Exploration, analysis and implication. Baguio City: St. Louis Univ. Press.
Biggs, J.B. (1978). Individuals dan groups differences in study process. British Journal
of Educational Psychology, 48, 266-279.
Depdikbud. (1984). The Indonesian Open Learning Institute. Unpublished manuscript.
Dekdikbud/UNDP/World Bank.
Dekdibud. (1992). Statuta Universitas Terbuka. Jakarta: Penerbitan UT.
Erikson, E.H. (1968). Identity: Youth and crisis. London: Faber & Faber.
Henderson, E.S. (1983). Theoritical perspectives on adult education. In E.S. Henderson
and M.B. Nathenson (Eds.), Independent Learning in Higher Education. Milton Keynes:
The Open Univ. Press.
Kadarko (1992). Belajar mandiri dalam konteks pendidikan jarak jauh: suatu usaha
untuk mencari pola pendekatan belajar yang efektif dalam menempuh studi di
universitas terbuka. Jakarta: Fakultas Pasca Sarjana IKIP Jakarta.
Marland, P.. (1989). An Approach to research on distance learning. Brit. J. of Ed. Tech.,
20,173-182.
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 9 of 9
Muis, A. (1987). UT, Universitas canggih di tengah masyarakat agraris. Seminar
Prospek Universitas Terbuka. Jakarta: Penerbitan Universitas terbuka.
Pask,G.,& Scott, B.C.E. (1972). Learning strategies and individual competence.
International Journal of Man-Machine Studies, 4 (3), 217-253.
Pask, G. (1977). Styles and strategies of learning. British Journal of Educational
Psychology, 46, 126-148.
Ramsden, P. and Entwistle, N.J. (1981). Effects of academic department on
students’approaches to studying, Brit.J. Ed. Tech.,51, 368-383.
Schuemer, R. (1993). Some psychological aspects of distance education. Hagen:
Zentrales Institu fur Fernstudien Frschung (ZIFF).
Wedemeyer, C.A. (1979). Criteria for constructing a distance education system.
Canadian J. Univ. Continuing Ed. VI, 6 (1), 9-17.
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar