Senin, 21 Maret 2011
autisme masa kanak
AUTISME MASA KANAK
Autisme Masa kanak ( Childhood Autism )
Autisme Masa Kanak adalah gangguan perkembangan pada anak yang gejalanya
sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun. Perkembangan yang
terganggu adalah dalam bidang :
1. Komunikasi : kualitas komunikasinya yang tidak normal, seperti ditunjukkan
dibawah ini :
Perkembangan bicaranya terlambat, atau samasekali tidak berkembang.
Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik muka untuk
mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara.
Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu
pembicaraan dua arah yang baik.
Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.
Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya kurang
variatif.
2. Interaksi sosial : adanya gangguan dalam kualitas interaksi social :
Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial, maupun postur dan
gerak tubuh, untuk berinteraksi secara layak.
Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya, dimana mereka
bisa berbagi emosi, aktivitas, dan interes bersama.
Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain.
Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi kesenangan
dan melakukan sesuatu bersama-sama.
3. Perilaku : aktivitas, perilaku dan interesnya sangat terbatas, diulang-ulang dan
stereotipik seperti dibawah ini :
Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola perilaku yang tidak
normal, misalnya duduk dipojok sambil menghamburkan pasir seperti air hujan,
yang bisa dilakukannya berjam-jam.
Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak berguna, misalnya
kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan
kaki dikeset, baru naik ketempat tidur. Bila ada satu diatas yang terlewat atau
terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan nangis teriak-teriak minta
diulang.
Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, seperti misalnya
mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan jari dengan cara tertentu dan
mengetok-ngetokkan sesuatu.
Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang tak berguna,
seperti roda sepeda yang diputar-putar, benda dengan bentuk dan rabaan tertentu
yang terus diraba-rabanya, suara-suara tertentu.
Anak-anak ini sering juga menunjukkan emosi yang tak wajar, temper tantrum
(ngamuk tak terkendali), tertawa dan menangis tanpa sebab, ada juga rasa takut
yang tak wajar.
Kecuali gangguan emosi sering pula anak-anak ini menunjukkan gangguan
sensoris, seperti adanya kebutuhan untuk mencium-cium/menggigit-gigit benda,
tak suka kalau dipeluk atau dielus.
Autisme Masa Kanak lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak
perempuan dengan perbandingan 3 : 1
7 langkah mengembangkan pemikiran kritis
7 Langkah Mengembangkan Pemikiran Kritis Saat Belajar
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian Mohon Pilih.
Nama & E-mail (Penulis): Yovan
Saya Konsultan di Jakarta
Topik: Metode Pembelajaran
Jika anda seorang pelajar atau mahasiswa, tentunya artikel kali ini sangat berguna
bagi anda. Artikel kali ini merupakan lanjutan dari artikel tentang pembelajaran
sebelumnya, strategi sukses di sekolah.
Dalam menjalani proses pembelajaran, baik di sekolah maupun di kampus, tentu
anda menginginkan prestasi yang optimal. Penting untuk disadari bahwa guna
mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal tentu faktor yang paling
menentukan adalah pada proses belajar itu sendiri.
Banyak individu beranggapan bahwa proses belajar merupakan proses yang
sederhana. Hanya dengan membaca materi pengajaran
(buku/diktat/modul/kebetan ), memperhatikan dan mendengarkan penjelasan di
kelas maka prestasi optimal pasti diraih. Sayangnya pada kenyataannya tidak
demikian (kacian deh lu... ). Jika demikian kenyataannya maka tentunya akan
banyak sekali individu yang berhasil dalam belajar. Jika demikian maka tidak
akan ada bimbingan belajar yang mengedepankan hanya cara-cara ringkas dalam
menyelesaikan soal. Dan memang kenyataannya tidak demikian. Banyak
siswa/mahasiswa yang telah melakukan hal serupa namun prestasinya tetap
kurang memuaskan. Strategi belajar pasif tidak akan pernah memberikan hasil
pembelajaran yang diharapkan.
Tahukah anda bahwa guna meraih hasil optimal anda perlu melibatkan seluruh
pemikiran aktif saat melakukan pembelajaran. Sayangnya banyak institusi
pendidikan (baik sekolah, kampus apalagi bimbingan belajar) yang tidak
mengembangkan hal ini. Bagi mereka belajar adalam proses dimana guru
mengajar dan siswa menerima. Itu dan hanya itu saja. Wajar saja kemudian
sekiranya kualitas pendidikan bangsa ini sedikit kurang dibandingkan negara lain
di kawasan.
Belajar dan berpikir merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dapatkah
anda membayangkan bagaimana proses pembelajaran yang tidak disertai dengan
proses berpikir. Sayangnya masih banyak individu yang belajar seperti zombie.
Dari luar sepertinya mereka belajar namun sebenarnya mereka tidak belajar.
Proses belajar dapat dianalogikan sebagai keseluruhan perjalanan mencapai satu
tujuan. Sementara berpikir merupakan proses perjalanan itu sendiri, kaki mana
yang harus dilangkahkan dan ke arah mana anda perlu melangkahkannya. Selama
proses perjalanan anda perlu memastikan bahwa setiap langkah koheren satu sama
lain guna mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Karena untuk
mencapai hasil optimal dalam pembelajaran dibutuhkan pemikiran aktif, dan
berpikir secara aktif sama artinya dengan berpikir secara kritis, maka artinya
proses pembelajaran optimal membutuhkan pemikiran kritis dari si pembelajar.
Mungkin seperti yang lainnya, kini anda bertanya, �Apa yang dimaksud dengan
pemikiran secara kritis?� Pada bagian berikut saya menguraikan seluruh tahapan
yang dapat dilakukan untuk mengembangkan pemikiran kritis saat belajar.
Harapannya setelah membaca artikel ini, anda tidak melatihnya namun langsung
menerapkan dan hanya menanti hasil yang lebih optimal, segera atau beberapa
saat setelahnya.
1. Tentukan hal yang ingin anda pelajari
Untuk dapat melibatkan pemikiran kritis saat belajar, sebelumnya anda perlu
benar-benar mengetahui apa yang akan atau ingin anda pelajari. Hal ini sama
seperti mengetahui tujuan pergi sebelum anda melangkahkan kaki ke luar rumah.
Anda dapat melakukan hal ini dengan memberikan pernyataan seputar materi
tersebut. Jika anda mudah lupa, tips dari saya, ikuti training/coaching Prima
Memory atau siapkan selembar kertas di dekat anda dan tuliskan berbagai
penyataan tujuan anda mempelajari materi tersebut. Anda dapat memberikan
berbagai pernyataan sederhana seperti, �Saya penasaran cara kerja pikiran saat
seseorang berada pada kondisi hypnosis?� atau �Saya penasaran apa hubungan
antara hypnosis dengan peningkatan daya ingat seseorang?� Intinya semua
pertanyaan yang anda tuliskan adalah pernyataan tujuan yang singkat dan
sederhana.
2. Kumpulkan semua sumber informasi
Daftarkan semua sumber informasi berkenaan dengan materi yang ingin anda
kuasai, setelahnya kumpulkan. Anda perlu membuka diri seluas-luasnya pada
berbagai sumber informasi, mulai dari buku, makalah, artikel, berbagai sumber di
internet, kliping, jurnal, koran, majalah, siaran radio, TV, penjelasan guru/dosen,
wangsit, wasiat, wasir dan yang lainnya . Hilangkan semua praduga anda
mengenai materi yang ingin anda pelajari, karena praduga anda hanya akan
membatasi proses pencarian berkenaan seputar materi tersebut. Semakin banyak
sumber informasi yang anda dapatkan semakin baik.
Setelahnya anda perlu mencari pula berbagai contoh aplikasi dari hal yang anda
telah pelajari. Tahapan ini sering kali dilewatkan oleh banyak individu. Akibatnya
proses pembelajaran mereka kurang optimal karena membuat mereka seolah
terpisah dengan materi yang sedang dipelajari. Mereka memahami materinya,
namun mereka tidak mengetahui aplikasinya.
Berbagai contoh aplikasi yang anda temui di lapangan juga dapat membantu anda
memfilter informasi mana yang perlu diterima dan informasi mana yang perlu
ditolak. Ketika terdapat ketidaksesuaian antara aplikasi di lapangan dan teori yang
anda pelajari hal ini merupakan sinyal bagi anda untuk mulai bertanya ke dalam
diri, �Haruskan saya terima informasi ini atau saya perlu membuangnya?�
Melakukan hal ini akan semakin memperkuat pemahaman anda akan materi yang
anda pelajari.
3. Tanyakan asumsi dasar penulis
Setiap individu memiliki pemahaman yang berbeda-beda atas suatu kondisi. Dan
seperti yang telah saya ulas sebelumnya pada artikel resolusi konflik melalui
modifikasi value, tidak ada satu pun dari pemahaman tersebut yang 100% akurat
dengan kondisi yang sesungguhnya terjadi. Salah satu kondisi yang kudu dalam
berpikir kritis adalah anda perlu memiliki pendekatan seobjektif mungkin atas hal
yang anda pelajari dan minimalkan terseret oleh subjektifitas satu pihak,
katakanlah si penulis.
Serupa dengan artikel ini, anda perlu melakukan hal yang sama. Tanyakan
berbagai pertanyaan yang ada di benak anda saat membaca artikel ini. Bahkan jika
diperlukan berikan sanggahan anda atas artikel ini atau pada berbagai artikel
lainnya di web site ini. Karena web site ini diorientasikan se-objektif mungkin,
itulah sebabnya saya memfasilitasi objektifitas individu melalui media buku tamu
atau mailing list.
4. Buat pola sederhana atas materi yang dipelajari.
Artikel pada majalah Scientific American Mind volume 17, No. 6, Venus in
Response mengungkapkan bahwa persepsi individu mengenai kecantikan ternyata
lebih ditentukan oleh kesederhanaan. Wajah yang sederhana dan tidak rumit
ketika dipandang dianggap sebagai wajah yang cantik. Dan masih banyak lagi
contoh lainnya yang menerangkan bahwa pikiran lebih senang dengan
keserhanaan. Saya beranggapan hal ini salah satunya disebabkan oleh mekanisme
kerja pikiran manusia yang tidak senang dengan kompleksitas.
Demikian juga dalam belajar kaitannya dengan pembelajaran. Sangat penting bagi
anda untuk membuat pola di pikiran mengenai hal yang telah anda pelajari. Anda
perlu membuat hal yang anda pelajari menjadi sederhana namun tidak
menyederhanakan (bingung� kan ). Maksud saya adalah dalam proses belajar
anda perlu kemudian membentuk pola namun tidak terlalu mereduksi berbagai
informasi yang penting. Jika anda melakukan hal ini maka kualitas pemahaman
anda yang dikorbankan. Salah satu cara untuk membentuk pola atas hal yang
dipelajari adalah dengan menggunakan peta pikiran (mind map). Dengan
menggunakan mind map maka anda tidak hanya membentuk pola dengan melihat
seluruh gambaran besar dari informasi yang anda pelajari, namun anda juga
mengetahui hubungan antara masing-masing informasi tersebut. Sebagai
tambahan, hal ini juga mempermudah anda dalam mengkomunikasikan hal yang
anda pelajari kepada orang lain.
5. Tanya ???
Setelah mendapatkan pola dari materi yang anda pelajari maka tahapan
selanjutnya adalah menanyakan kembali berbagai informasi yang telah anda
pelajari kepada diri anda. Hal ini salah satunya ditujukan untuk mengaktifkan
pikiran anda dan terus mengembangkan berbagai hal yang telah anda pelajari.
Dengan bertanya anda mengindentifikasi berbagai hal yang mungkin belum anda
kuasai mengenai materi yang anda kuasai. Tanyakan berbagai pertanyaan yang
memancing untuk memperbesar medan pemahaman anda misalnya, �Bagaimana
kalau begini/begitu?�.
6. Kemukakan !!!
Setelah anda belajar mengenai sesuatu tentunya anda ingin mengetahui seberapa
baiknya penguasaan anda. Asumsi saya anda belajar untuk memahami suatu
materi dan bukan untuk orientasi yang lain, seperti sebatas menaikan nilai
misalnya. Nilai merupakan konsekuensi logis atas pemahaman anda. Dengan
demikian wajar sekiranya saya merasa aneh ketika mendengar atau melihat iklan
berbagai institusi pendidikan yang berbunyi �menaikan nilai ujian dengan rata-
rata sekian� atau �semua lulusan kami langsung kerja�. Tidakkah hal itu
terdengar seperti �pemrograman manusia�. Mungkin memang benar sekarang
jaman edan, semuanya serba terbalik .
Untuk mengetahui seberapa baiknya pemahaman, anda perlu menyatakan kembali
berbagai hal yang telah dipelajari sebelumnya. Dengan melakukan hal ini anda
mengetahui sejauh mana dan sebaik apa penguasaan anda atas materi tersebut.
Untuk melakukan hal ini anda dapat menerangkan ke orang lain. Namun
sebelumnya perlu dijelaskan bahwa tujuan anda adalah untuk meningkatkan
pemahaman anda atas materi tersebut dan bukan untuk mempertontonkan
kecerdasan anda.
7. Uji kemampuan anda.
Langkah terakhir dari rangkaian tahapan berpikir kritis dalam belajar adalah
menguji penguasaan. Serupa dengan tahapan sebelumnya, tahapan ini dilakukan
salah satunya untuk mengetahui seberapa baiknya kemampuan anda atas materi
yang dipelajari. Bedanya, tahapan ini sedikit lebih mendetil. Sedikitnya ada lima
hal yang perlu dilakukan untuk menguji kemampuan anda, antara lain:
* Daftarkan
Termasuk di dalamnya memberikan label (nama), mengidentifikasi dan membuat
daftar seputar materi yang dipelajari. Hal ini ditujukan untuk mendemonstrasikan
berbagai hal yang telah anda pelajari. Dengan kata lain seberapa beragamnya hal
yang telah anda kuasai.
* Definisikan
Termasuk di dalamnya memberikan penjelasan, merangkum dengan kata-kata
sendiri dan berbagai cara lainnya. Utamanya dengan merangkum menggunakan
kata-kata sendiri, anda mengetahui seberapa baiknya penguasaan anda atas materi
tersebut. Selain itu dengan melakukan hal ini anda memadukan pula informasi
terbaru dengan berbagai informasi yang telah anda ketahui sebelumnya.
* Pecahkan masalah
Termasuk pula di dalamnya memberikan contoh berkenaan dengan materi yang
anda pelajari. Dengan melakukan hal ini anda mengetahui pula aplikasi dari
materi yang anda pelajari.
* Bandingkan dengan teori lain
Jika anda pernah mempelajari atau megetahui materi sejenis dari sumber yang
berbeda maka anda dapat melakukan komparasi antara keduanya. Melakukan hal
ini berarti anda melatih pula daya analisa.
* Ciptakan
Termasuk pula di dalamnya mengkombinasikan dan menemukan teori baru.
Menciptakan terori bukan hanya hal para peneliti, anda pun dapat dan harus pula
melakukannya. Kembangkan teori anda sendiri. Dengan demikian anda
mengkristalkan pemahaman anda atas materi tersebut. * Dan yang terakhir, buat
rekomendasi anda
Serupa dengan langkah sebelumnya, namun langkah ini lebih ditujukan bagi orang
lain. Menurut saya karakteristik cerdas adalah; mengetahui apa yang diinginkan,
mengetahui di mana mendapatkan yang diinginkan dan dapat membuat orang lain
mencapai seperti dirinya. Semantara anda membaca artikel ini, saya mengetahui
pula bahwa anda adalah seorang yang cerdas sehingga tentuya anda dapat juga
membantu orang lain untuk meraih pula berbagai pencapaian anda. Anda dapat
melakukan hal ini salah satunya dengan memberikan rekomendasi atas materi
yang bersangkutan. Beritahu the do�s anda the don�t�s untuk mempelajari
materi tersebut.
Okehh (memang pakai "h" ) , demikianlah artikel kali ini mengenai metode cara
mengembangkan pemikiran yang kritis dalam pembelajaran. Kembali lagi harapan
saya semoga setelah anda membaca keseluruhan artikel kali ini, anda tidak
melatihnya, melainkan hanya melakukannya saja dalam keseharian. Saya
penasaran seberapa cepatnya seluruh kemampuan tersebut menyatu dengan diri
anda, sekarang atau beberapa saat setelahnya.
Sumber :Pendidikan.net
pemecahan analitis secara kreatif
Pemecahan Masalah Secara Analitis & Kreatif
Oleh : Arbono Lasmahadi
Setelah ditunjuk menjadi Pimpinan Eksekutif di Porsche (salah satu produsen
mobil terkenal), pada tahun 1992, disaat Porsche sedang menuju jurang
kebangkrutan, Wendelin Wiedeking langsung mengajak kelompok Shin-Gijutsu,
yang merupakan para ahli teknik yang telah dikader oleh Toyota untuk mengelola
dan membenahi sistim yang ada di pabrik Porsche. Dengan bantuan dari para ahli
teknik Jepang, waktu untuk melakukan perakitan berhasil diturunkan dari 120 jam
menjadi 72 jam. Jumlah kesalahan pada setiap pembuatan mobil turun 50 %
menjadi hanya 3 kesalahan per mobil. Jumlah tenaga kerja menurun sebesar 19 %
menjadi 6.800 orang, dari lebih dari 8.400 orang di tahun 1992. Jumlah "line
production" telah berhasil diperpendek . Begitu pula dengan jumlah inventori
yang telah berkurang, membuat ruang yang digunakan di pabrik menjadi lebih
kecil sebesar 30 %. Perubahan-perubahan tersebut di atas telah membuat Porsche
berhasil memproduksi mobil dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan
sebelumnya. Dampaknya, pertama kali dalam 4 tahun terakhir, perusahaan
melaporkan keuntungan, setelah sebelumnya merugi sebesar 300 Juta Dolar
Amerika.
Hal yang menarik yang mungkin ingin kita ketahui dari ilustrasi cerita di atas
adalah, cara efektif yang berhasil diterapkan oleh para ahli teknik Jepang untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Porsche, dan kemudian merubahnya
menjadi sebuah keuntungan. Secara umum yang dilakukan oleh ahli teknik Jepang
adalah dengan membentuk kelompok kerja yang berbeda yang menerapkan
prinsip-prinsip pemecahan masalah secara ilmiah untuk menganalisa situasi yang
terjadi, membuat rencana perbaikan secara kreatif, dan menerapkan rencana
perbaikan melalui proses pengawasan kualitas.
Ilustrasi di atas yang dikutip dari tulisan Phillip L Hunsaker tentang Pemecahan
Masalah Secara Kreatif (2005) , menunjukkan kepada kita bahwa proses
penyelesaian masalah secara efektif akan dapat membantu sebuah organisasi
keluar dari kemelut keuangan yang mereka hadapi, dan merubahnya menjadi
sebuah kesempatan yang menguntungkan. Tanpa penanganan yang benar saat itu,
bukan tidak mungkin Porsche mengalami kebangkrutan total, dan tidak pernah
terdengar lagi dalam industri kendaraan bermotor. Peristiwa yang terjadi pada
Porshce bukan tidak mungkin terjadi pada organisasi lainnya, organisasi tempat
kita bekerja saat ini atau pada diri kita sendiri. Kemampuan kita dalam melakukan
pemecahan masalah secara analitis dan kreatif menjadi salah satu kunci agar kita
dapat keluar dari masalah yang kita hadapi, dan mencapai kesuksesan dalam
bisnis, maupun karir kita.
Adanya kesempatan bagi kita untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang kita
hadapi secara analitis dan kreatif menjadi inspirasi bagi saya untuk menjadikan
pemecahan masalah secara analitis dan kreatif sebagai bahan tulisan saya kali ini.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat membantu kita semua agar kita tidak terjebak
dalam perangkap yang mengurangi kualitas pemecahan masalah yang kita
hasilkan.
Pemecahan Masalah Secara Analitis dan Kreatif
Pemecahan masalah didefinisikan sebagai suatu proses penghilangan perbedaan
atau ketidak-sesuaian yang terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil yang
diinginkan (Hunsaker, 2005). Salah satu bagian dari proses pemecahan masalah
adalah pengambilan keputusan (decision making), yang didefinisikan sebagai
memilih solusi terbaik dari sejumlah alternatif yang tersedia (Hunsaker, 2005).
Pengambilan keputusan yang tidak tepat, akan mempengaruhi kualitas hasil dari
pemecahan masalah yang dilakukan.
Kemampuan untuk melakukan pemecahan masalah adalah ketrampilan yang
dibutuhkan oleh hampir semua orang dalam setiap aspek kehidupannya. Jarang
sekali seseorang tidak menghadapi masalah dalam kehidupannya sehari-hari.
Pekerjaan seorang manajer, secara khusus, merupakan pekerjaan yang
mengandung unsur pemecahan masalah di dalamnya. Bila tidak ada masalah di
dalam banyak organisasi, mungkin tidak akan muncul kebutuhan untuk
mempekerjakan para manajer. Untuk itulah sulit untuk dapat diterima bila seorang
yang tidak memiliki kompetensi untuk menyelesaikan masalah, menjadi seorang
manajer (Whetten & Cameron, 2002).
Ungkapan di atas memberikan gambaran yang jelas kepada kita semua bahwa
sulit untuk menghindarkan diri kita dari masalah, karena masalah telah menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita, baik kehidupan sosial,
maupun kehidupan profesional kita. Untuk itulah penguasaan atas metode
pemecahan masalah menjadi sangat penting, agar kita terhindar dari tindakan
Jump to conclusion, yaitu proses penarikan kesimpulan terhadap suatu masalah
tanpa melalui proses analisa masalah secara benar, serta didukung oleh bukti-bukti
atau informasi yang akurat. Ada kecenderungan bahwa orang-orang, termasuk
para manajer mempunyai kecenderungan alamiah untuk memilih solusi pertama
yang masuk akal yang muncul dalam benak mereka (March & Simon, 1958;
March, 1994; Koopman, Broekhuijsen, & Weirdsma, 1998). Sayangnya, pilihan
pertama yang mereka ambil seringkali bukanlah solusi terbaik. Secara tipikal,
dalam pemecahan masalah, kebanyakan orang menerapkan solusi yang kurang
dapat diterima atau kurang memuaskan, dibanding solusi yang optimal atau yang
ideal (Whetten & Cameron, 2002). Pemecahan masalah yang tidak optimal ini,
bukan tidak mungkin dapat memunculkan masalah baru yang lebih rumit
dibandingkan dengan masalah awal.
Pemecahan masalah dapat dilakukan melalui dua metode yang berbeda, yaitu
analitis dan kreatif. Untuk dapat memberikan gambaran yang lebih baik tentang
pemecahan masalah secara analitis dan kreatif, serta perbedaan-perbedaan yang
ada diantara keduanya, maka pada bagian berikut , saya akan menjelaskan secara
singkat hal tersebut di atas.
I. Pemecahan Masalah Secara Analitis
Metode penyelesaian masalah secara analitis merupakan pendekatan yang cukup
terkenal dan digunakan oleh banyak perusahaan, serta menjadi inti dari gerakan
peningkatan kualitas (quality improvement). Secara luas dapat diterima bahwa
untuk meningkatan kualitas individu dan organisasi, langkah penting yang perlu
dilakukan adalah mempelajari dan menerapkan metode pemecahan masalah
secara analitis (Juran, 1988; Ichikawa, 1986; Riley, 1998). Banyak organisasi
besar (misalnya : Ford Motor Company, General Electric, Dana) menghabiskan
jutaan Dolar untuk mendidik para manajer mereka tentang metode pemecahan
masalah ini sebagai bagian dari proses peningkatan kualitas yang ada di organisasi
mereka (Whetten & Cameron, 2002). Pelatihan ini penting agar para manajer
dapat berfungsi efektif, yang salah satu cirinya adalah pada kemampuannya untuk
memecahkan masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Hunsaker (2005) yang
menyatakan bahwa manajer yang efektif, seperti halnya Pemimpin Eksekutif
Porsche, Wendelin Wiedeking, mengetahui cara mengumpulkan dan mengevaluasi
informasi yang dapat menerangkan tentang masalah yang terjadi, mengetahui
manfaatnya bila kita memiliki lebih dari satu alternatif pemecahan masalah, dan
memberikan bobot kepada semua implikasi yang dapat terjadi dari sebuah
rencana, sebelum menerapkan rencana yang bersangkutan.
A. Definisikan Masalah
Langkah pertama yang perlu dilakukan dengan metode analitis adalah
mendefinisikan masalah yang terjadi. Pada tahap ini, kita perlu melakukan
diagnosis terhadap sebuah situasi, peristiwa atau kejadian, untuk memfokuskan
perhatian kita pada masalah sebenarnya, dan bukan pada gejala-gejala yang
muncul. Sebagai contoh : Seorang manajer yang mempunyai masalah dengan staf-
nya yang kerapkali tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya pada waktu yang
telah ditentukan. Masalah ini bisa terjadi karena, cara kerja yang lambat dari staf
yang bersangkutan. Cara kerja yang lambat, bisa saja hanya sebuah gejala dari
permasalahan yang lebih mendasar lagi, seperti misalnya masalah kesehatan,
moral kerja yang rendah, kurangnya pelatihan atau kurang efektifnya proses
kepemimpinan yang ada.
Agar kita dapat memfokuskan perhatian kita pada masalah sebenarnya, dan bukan
pada gejala-gejala yang muncul, maka dalam proses mendefiniskan suatu
masalah, diperlukan upaya untuk mencari informasi yang diperlukan sebanyak-
banyaknya, agar masalah dapat didefinisikan dengan tepat.
Berikut ini adalah beberapa karakteristik dari pendefinisian masalah yang baik:
Fakta dipisahkan dari opini atau spekulasi. Data objektif dipisahkan dari persepsi
Semua pihak yang terlibat diperlakukan sebagai sumber informasi
Masalah harus dinyatakan secara eksplisit/tegas. Hal ini seringkali dapat
menghindarkan kita dari pembuatan definisi yang tidak jelas
Definisi yang dibuat harus menyatakan dengan jelas adanya ketidak-sesuaian
antara standar atau harapan yang telah ditetapkan sebelumnya dan kenyataan yang
terjadi.
Definisi yang dibuat harus menyatakan dengan jelas, pihak-pihak yang terkait atau
berkepentingan dengan terjadinya masalah.
Definisi yang dibuat bukanlah seperti sebuah solusi yang samar. Contoh: Masalah
yang kita hadapi adalah melatih staf yang bekerja lamban.
B. Buat Alternatif Pemecahan Masalah.
Langkah kedua yang perlu kita lakukan adalah membuat alternatif penyelesaian
masalah. Pada tahap ini, kita diharapkan dapat menunda untuk memilih hanya satu
solusi, sebelum alternatif solusi-solusi yang ada diusulkan. Penelitian-penelitian
yang pernah dilakukan dalam kaitannya dengan pemecahan masalah (contohnya
oleh March, 1999) mendukung pandangan bahwa kualitas solusi-solusi yang
dihasilkan akan lebih baik bila mempertimbangkan berbagai alternatif (Whetten &
Cameron, 2002).
Berikut adalah karakteristik-karakteristik dari pembuatan alternatif masalah yang
baik:
Semua alternatif yang ada sebaiknya diusulkan dan dikemukakan terlebih dahulu
sebelum kemudian dilakukannya evaluasi terhadap mereka.
Alternatif-alternatif yang ada, diusulkan oleh semua orang yang terlibat dalam
penyelesaian masalah. Semakin banyaknya orang yang mengusulkan alternatif,
dapat meningkatkan kualitas solusi dan penerimaaan kelompok.
Alternatif-alternatif yang diusulkan harus sejalan dengan tujuan atau kebijakan
organisasi. Kritik dapat menjadi penghambat baik terhadap proses organisasi
maupun proses pembuatan alternatif pemecahan masalah.
Alternatif-alternatif yang diusulkan perlu mempertimbangkan konsekuensi yang
muncul dalam jangka pendek, maupun jangka panjang.
Alternatif–alternatif yang ada saling melengkapi satu dengan lainnya. Gagasan
yang kurang menarik , bisa menjadi gagasan yang menarik bila dikombinasikan
dengan gagasan-gagasan lainnya. Contoh : Pengurangan jumlah tenaga kerja,
namun kepada karyawan yang terkena dampak diberikan paket kompensasi yang
menarik.
Alternatif-alternatif yang diusulkan harus dapat menyelesaikan masalah yang
telah didefinisikan dengan baik. Masalah lainnya yang muncul, mungkin juga
penting. Namun dapat diabaikan bila, tidak secara langsung mempengaruhi
pemecahan masalah utama yang sedang terjadi.
C. Evaluasi Alternatif-Alternatif Pemecahan Masalah
Langkah ketiga dalam proses pemecahan masalah adalah melakukan evaluasi
terhadap alternatif-alternatif yang diusulkan atau tersedia. Dalam tahap ini , kita
perlu berhati-hati dalam memberikan bobot terhadap keuntungan dan kerugian
dari masing-masing alternatif yang ada, sebelum membuat pilihan akhir. Seorang
yang terampil dalam melakukan pemecahan masalah, akan memastikan bahwa
dalam memilih alternatif-alternatif yang ada dinilai berdasarkan:
Tingkat kemungkinannya untuk dapat menyelesaikan masalah tanpa
menyebabkan terjadinya masalah lain yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Tingkat penerimaan dari semua orang yang terlibat di dalamnya
Tingkat kemungkinan penerapannya
Tingkat kesesuaiannya dengan batasan-batasan yang ada di dalam organisasi;
misalnya budget, kebijakan perusahaan, dll.
Berikut adalah karakteristik-karakteristik dari evaluasi alternatif-alternatif
pemecahan masalah yang baik:
Alternatif- alternatif yang ada dinilai secara relatif berdasarkan suatu standar yang
optimal, dan bukan sekedar standar yang memuaskan
penilaian terhadap alternative-alternatif yang ada dilakukan secara sistematis,
sehingga semua alternatif yang diusulkan akan dipertimbangkan,
Alternatif-alternatif yang ada dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan
organisasi dan mempertimbangkan preferensi dari orang-orang yang terlibat
didalamnya.
Alternatif-alternatif yang ada dinilai berdasarkan dampak yang mungkin
ditimbulkannya, baik secara langsung, maupun tidak langsung
Alternatif yang paling dipilih dinyatakan secara eksplisit/tegas.
D. Terapkan Solusi dan Tindak- Lanjuti
Langkah terakhir dari metode ini adalah menerapkan dan menindak-lanjuti solusi
yang telah diambil. Dalam upaya menerapkan berbagai solusi terhadap suatu
masalah, kita perlu lebih sensitif terhadap kemungkinan terjadinya resistensi dari
orang-orang yang mungkin terkena dampak dari penerapan tersebut. Hampir pada
semua perubahan, terjadi resistensi. Karena itulah seorang yang piawai dalam
melakukan pemecahan masalah akan secara hati-hati memilih strategi yang akan
meningkatkan kemungkinan penerimaan terhadap solusi pemecahan masalah oleh
orang-orang yang terkena dampak dan kemungkinan penerapan sepenuhnya dari
solusi yang bersangkutan (Whetten & Cameron, 2002).
Berikut adalah karakteristik dari penerapan dan langkah tindak lanjut yang efektif:
Penerapan solusi dilakukan pada saat yang tepat dan dalam urutan yang benar.
Penerapan tidak mengabaikan faktor-faktor yang membatasi dan tidak akan terjadi
sebelum tahap 1, 2, dan 3 dalam proses pemecahan masalah dilakukan.
Penerapan solusi dilakukan dengan menggunakan strategi "sedikit-demi sedikit"
dengan tujuan untuk meminimalkan terjadinya resistensi dan meningkatkan
dukungan.
Proses penerapan solusi meliputi juga proses pemberian umpan balik. Berhasil
tidaknya penerapan solusi, harus dikomunikasikan , sehingga terjadi proses
pertukaran informasi
Keterlibatan dari orang-orang yang akan terkena dampak dari penerapan solusi
dianjurkan dengan tujuan untuk membangun dukungan dan komitmen
Adanya sistim monitoring yang dapat memantau penerapan solusi secara
berkesinambungan. Dampak jangka pendek, maupun jangka panjang diukur.
Penilaian terhadap keberhasilan penerapan solusi didasarkan atas terselesaikannya
masalah yang dihadapi, bukan karena adanya manfaat lain yang diperoleh dengan
adanya penerapan solusi ini. Sebuah solusi tidak dapat dianggap berhasil bila
masalah yang menjadi pertimbangan yang utama tidak terselesaikan dengan baik,
walaupun mungkin muncul dampak positif lainnya.Pemecahan Masalah Secara
Analitis & Kreatif
Kategori Organisasi Industri
Oleh : Arbono Lasmahadi
Jakarta, 15 Desember 2005
Setelah ditunjuk menjadi Pimpinan Eksekutif di Porsche (salah satu produsen
mobil terkenal), pada tahun 1992, disaat Porsche sedang menuju jurang
kebangkrutan, Wendelin Wiedeking langsung mengajak kelompok Shin-Gijutsu,
yang merupakan para ahli teknik yang telah dikader oleh Toyota untuk mengelola
dan membenahi sistim yang ada di pabrik Porsche. Dengan bantuan dari para ahli
teknik Jepang, waktu untuk melakukan perakitan berhasil diturunkan dari 120 jam
menjadi 72 jam. Jumlah kesalahan pada setiap pembuatan mobil turun 50 %
menjadi hanya 3 kesalahan per mobil. Jumlah tenaga kerja menurun sebesar 19 %
menjadi 6.800 orang, dari lebih dari 8.400 orang di tahun 1992. Jumlah "line
production" telah berhasil diperpendek . Begitu pula dengan jumlah inventori
yang telah berkurang, membuat ruang yang digunakan di pabrik menjadi lebih
kecil sebesar 30 %. Perubahan-perubahan tersebut di atas telah membuat Porsche
berhasil memproduksi mobil dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan
sebelumnya. Dampaknya, pertama kali dalam 4 tahun terakhir, perusahaan
melaporkan keuntungan, setelah sebelumnya merugi sebesar 300 Juta Dolar
Amerika.
Hal yang menarik yang mungkin ingin kita ketahui dari ilustrasi cerita di atas
adalah, cara efektif yang berhasil diterapkan oleh para ahli teknik Jepang untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Porsche, dan kemudian merubahnya
menjadi sebuah keuntungan. Secara umum yang dilakukan oleh ahli teknik Jepang
adalah dengan membentuk kelompok kerja yang berbeda yang menerapkan
prinsip-prinsip pemecahan masalah secara ilmiah untuk menganalisa situasi yang
terjadi, membuat rencana perbaikan secara kreatif, dan menerapkan rencana
perbaikan melalui proses pengawasan kualitas.
Ilustrasi di atas yang dikutip dari tulisan Phillip L Hunsaker tentang Pemecahan
Masalah Secara Kreatif (2005) , menunjukkan kepada kita bahwa proses
penyelesaian masalah secara efektif akan dapat membantu sebuah organisasi
keluar dari kemelut keuangan yang mereka hadapi, dan merubahnya menjadi
sebuah kesempatan yang menguntungkan. Tanpa penanganan yang benar saat itu,
bukan tidak mungkin Porsche mengalami kebangkrutan total, dan tidak pernah
terdengar lagi dalam industri kendaraan bermotor. Peristiwa yang terjadi pada
Porshce bukan tidak mungkin terjadi pada organisasi lainnya, organisasi tempat
kita bekerja saat ini atau pada diri kita sendiri. Kemampuan kita dalam melakukan
pemecahan masalah secara analitis dan kreatif menjadi salah satu kunci agar kita
dapat keluar dari masalah yang kita hadapi, dan mencapai kesuksesan dalam
bisnis, maupun karir kita.
Adanya kesempatan bagi kita untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang kita
hadapi secara analitis dan kreatif menjadi inspirasi bagi saya untuk menjadikan
pemecahan masalah secara analitis dan kreatif sebagai bahan tulisan saya kali ini.
Mudah-mudahan tulisan ini dapat membantu kita semua agar kita tidak terjebak
dalam perangkap yang mengurangi kualitas pemecahan masalah yang kita
hasilkan.
Pemecahan Masalah Secara Analitis dan Kreatif
Pemecahan masalah didefinisikan sebagai suatu proses penghilangan perbedaan
atau ketidak-sesuaian yang terjadi antara hasil yang diperoleh dan hasil yang
diinginkan (Hunsaker, 2005). Salah satu bagian dari proses pemecahan masalah
adalah pengambilan keputusan (decision making), yang didefinisikan sebagai
memilih solusi terbaik dari sejumlah alternatif yang tersedia (Hunsaker, 2005).
Pengambilan keputusan yang tidak tepat, akan mempengaruhi kualitas hasil dari
pemecahan masalah yang dilakukan.
Kemampuan untuk melakukan pemecahan masalah adalah ketrampilan yang
dibutuhkan oleh hampir semua orang dalam setiap aspek kehidupannya. Jarang
sekali seseorang tidak menghadapi masalah dalam kehidupannya sehari-hari.
Pekerjaan seorang manajer, secara khusus, merupakan pekerjaan yang
mengandung unsur pemecahan masalah di dalamnya. Bila tidak ada masalah di
dalam banyak organisasi, mungkin tidak akan muncul kebutuhan untuk
mempekerjakan para manajer. Untuk itulah sulit untuk dapat diterima bila seorang
yang tidak memiliki kompetensi untuk menyelesaikan masalah, menjadi seorang
manajer (Whetten & Cameron, 2002).
Ungkapan di atas memberikan gambaran yang jelas kepada kita semua bahwa
sulit untuk menghindarkan diri kita dari masalah, karena masalah telah menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita, baik kehidupan sosial,
maupun kehidupan profesional kita. Untuk itulah penguasaan atas metode
pemecahan masalah menjadi sangat penting, agar kita terhindar dari tindakan
Jump to conclusion, yaitu proses penarikan kesimpulan terhadap suatu masalah
tanpa melalui proses analisa masalah secara benar, serta didukung oleh bukti-bukti
atau informasi yang akurat. Ada kecenderungan bahwa orang-orang, termasuk
para manajer mempunyai kecenderungan alamiah untuk memilih solusi pertama
yang masuk akal yang muncul dalam benak mereka (March & Simon, 1958;
March, 1994; Koopman, Broekhuijsen, & Weirdsma, 1998). Sayangnya, pilihan
pertama yang mereka ambil seringkali bukanlah solusi terbaik. Secara tipikal,
dalam pemecahan masalah, kebanyakan orang menerapkan solusi yang kurang
dapat diterima atau kurang memuaskan, dibanding solusi yang optimal atau yang
ideal (Whetten & Cameron, 2002). Pemecahan masalah yang tidak optimal ini,
bukan tidak mungkin dapat memunculkan masalah baru yang lebih rumit
dibandingkan dengan masalah awal.
Pemecahan masalah dapat dilakukan melalui dua metode yang berbeda, yaitu
analitis dan kreatif. Untuk dapat memberikan gambaran yang lebih baik tentang
pemecahan masalah secara analitis dan kreatif, serta perbedaan-perbedaan yang
ada diantara keduanya, maka pada bagian berikut , saya akan menjelaskan secara
singkat hal tersebut di atas.
I. Pemecahan Masalah Secara Analitis
Metode penyelesaian masalah secara analitis merupakan pendekatan yang cukup
terkenal dan digunakan oleh banyak perusahaan, serta menjadi inti dari gerakan
peningkatan kualitas (quality improvement). Secara luas dapat diterima bahwa
untuk meningkatan kualitas individu dan organisasi, langkah penting yang perlu
dilakukan adalah mempelajari dan menerapkan metode pemecahan masalah
secara analitis (Juran, 1988; Ichikawa, 1986; Riley, 1998). Banyak organisasi
besar (misalnya : Ford Motor Company, General Electric, Dana) menghabiskan
jutaan Dolar untuk mendidik para manajer mereka tentang metode pemecahan
masalah ini sebagai bagian dari proses peningkatan kualitas yang ada di organisasi
mereka (Whetten & Cameron, 2002). Pelatihan ini penting agar para manajer
dapat berfungsi efektif, yang salah satu cirinya adalah pada kemampuannya untuk
memecahkan masalah. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Hunsaker (2005) yang
menyatakan bahwa manajer yang efektif, seperti halnya Pemimpin Eksekutif
Porsche, Wendelin Wiedeking, mengetahui cara mengumpulkan dan mengevaluasi
informasi yang dapat menerangkan tentang masalah yang terjadi, mengetahui
manfaatnya bila kita memiliki lebih dari satu alternatif pemecahan masalah, dan
memberikan bobot kepada semua implikasi yang dapat terjadi dari sebuah
rencana, sebelum menerapkan rencana yang bersangkutan.
A. Definisikan Masalah
Langkah pertama yang perlu dilakukan dengan metode analitis adalah
mendefinisikan masalah yang terjadi. Pada tahap ini, kita perlu melakukan
diagnosis terhadap sebuah situasi, peristiwa atau kejadian, untuk memfokuskan
perhatian kita pada masalah sebenarnya, dan bukan pada gejala-gejala yang
muncul. Sebagai contoh : Seorang manajer yang mempunyai masalah dengan staf-
nya yang kerapkali tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya pada waktu yang
telah ditentukan. Masalah ini bisa terjadi karena, cara kerja yang lambat dari staf
yang bersangkutan. Cara kerja yang lambat, bisa saja hanya sebuah gejala dari
permasalahan yang lebih mendasar lagi, seperti misalnya masalah kesehatan,
moral kerja yang rendah, kurangnya pelatihan atau kurang efektifnya proses
kepemimpinan yang ada.
Agar kita dapat memfokuskan perhatian kita pada masalah sebenarnya, dan bukan
pada gejala-gejala yang muncul, maka dalam proses mendefiniskan suatu
masalah, diperlukan upaya untuk mencari informasi yang diperlukan sebanyak-
banyaknya, agar masalah dapat didefinisikan dengan tepat.
Berikut ini adalah beberapa karakteristik dari pendefinisian masalah yang baik:
Fakta dipisahkan dari opini atau spekulasi. Data objektif dipisahkan dari persepsi
Semua pihak yang terlibat diperlakukan sebagai sumber informasi
Masalah harus dinyatakan secara eksplisit/tegas. Hal ini seringkali dapat
menghindarkan kita dari pembuatan definisi yang tidak jelas
Definisi yang dibuat harus menyatakan dengan jelas adanya ketidak-sesuaian
antara standar atau harapan yang telah ditetapkan sebelumnya dan kenyataan yang
terjadi.
Definisi yang dibuat harus menyatakan dengan jelas, pihak-pihak yang terkait atau
berkepentingan dengan terjadinya masalah.
Definisi yang dibuat bukanlah seperti sebuah solusi yang samar. Contoh: Masalah
yang kita hadapi adalah melatih staf yang bekerja lamban.
B. Buat Alternatif Pemecahan Masalah.
Langkah kedua yang perlu kita lakukan adalah membuat alternatif penyelesaian
masalah. Pada tahap ini, kita diharapkan dapat menunda untuk memilih hanya satu
solusi, sebelum alternatif solusi-solusi yang ada diusulkan. Penelitian-penelitian
yang pernah dilakukan dalam kaitannya dengan pemecahan masalah (contohnya
oleh March, 1999) mendukung pandangan bahwa kualitas solusi-solusi yang
dihasilkan akan lebih baik bila mempertimbangkan berbagai alternatif (Whetten &
Cameron, 2002).
Berikut adalah karakteristik-karakteristik dari pembuatan alternatif masalah yang
baik:
Semua alternatif yang ada sebaiknya diusulkan dan dikemukakan terlebih dahulu
sebelum kemudian dilakukannya evaluasi terhadap mereka.
Alternatif-alternatif yang ada, diusulkan oleh semua orang yang terlibat dalam
penyelesaian masalah. Semakin banyaknya orang yang mengusulkan alternatif,
dapat meningkatkan kualitas solusi dan penerimaaan kelompok.
Alternatif-alternatif yang diusulkan harus sejalan dengan tujuan atau kebijakan
organisasi. Kritik dapat menjadi penghambat baik terhadap proses organisasi
maupun proses pembuatan alternatif pemecahan masalah.
Alternatif-alternatif yang diusulkan perlu mempertimbangkan konsekuensi yang
muncul dalam jangka pendek, maupun jangka panjang.
Alternatif–alternatif yang ada saling melengkapi satu dengan lainnya. Gagasan
yang kurang menarik , bisa menjadi gagasan yang menarik bila dikombinasikan
dengan gagasan-gagasan lainnya. Contoh : Pengurangan jumlah tenaga kerja,
namun kepada karyawan yang terkena dampak diberikan paket kompensasi yang
menarik.
Alternatif-alternatif yang diusulkan harus dapat menyelesaikan masalah yang
telah didefinisikan dengan baik. Masalah lainnya yang muncul, mungkin juga
penting. Namun dapat diabaikan bila, tidak secara langsung mempengaruhi
pemecahan masalah utama yang sedang terjadi.
C. Evaluasi Alternatif-Alternatif Pemecahan Masalah
Langkah ketiga dalam proses pemecahan masalah adalah melakukan evaluasi
terhadap alternatif-alternatif yang diusulkan atau tersedia. Dalam tahap ini , kita
perlu berhati-hati dalam memberikan bobot terhadap keuntungan dan kerugian
dari masing-masing alternatif yang ada, sebelum membuat pilihan akhir. Seorang
yang terampil dalam melakukan pemecahan masalah, akan memastikan bahwa
dalam memilih alternatif-alternatif yang ada dinilai berdasarkan:
Tingkat kemungkinannya untuk dapat menyelesaikan masalah tanpa
menyebabkan terjadinya masalah lain yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Tingkat penerimaan dari semua orang yang terlibat di dalamnya
Tingkat kemungkinan penerapannya
Tingkat kesesuaiannya dengan batasan-batasan yang ada di dalam organisasi;
misalnya budget, kebijakan perusahaan, dll.
Berikut adalah karakteristik-karakteristik dari evaluasi alternatif-alternatif
pemecahan masalah yang baik:
Alternatif- alternatif yang ada dinilai secara relatif berdasarkan suatu standar yang
optimal, dan bukan sekedar standar yang memuaskan
penilaian terhadap alternative-alternatif yang ada dilakukan secara sistematis,
sehingga semua alternatif yang diusulkan akan dipertimbangkan,
Alternatif-alternatif yang ada dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan tujuan
organisasi dan mempertimbangkan preferensi dari orang-orang yang terlibat
didalamnya.
Alternatif-alternatif yang ada dinilai berdasarkan dampak yang mungkin
ditimbulkannya, baik secara langsung, maupun tidak langsung
Alternatif yang paling dipilih dinyatakan secara eksplisit/tegas.
D. Terapkan Solusi dan Tindak- Lanjuti
Langkah terakhir dari metode ini adalah menerapkan dan menindak-lanjuti solusi
yang telah diambil. Dalam upaya menerapkan berbagai solusi terhadap suatu
masalah, kita perlu lebih sensitif terhadap kemungkinan terjadinya resistensi dari
orang-orang yang mungkin terkena dampak dari penerapan tersebut. Hampir pada
semua perubahan, terjadi resistensi. Karena itulah seorang yang piawai dalam
melakukan pemecahan masalah akan secara hati-hati memilih strategi yang akan
meningkatkan kemungkinan penerimaan terhadap solusi pemecahan masalah oleh
orang-orang yang terkena dampak dan kemungkinan penerapan sepenuhnya dari
solusi yang bersangkutan (Whetten & Cameron, 2002).
Berikut adalah karakteristik dari penerapan dan langkah tindak lanjut yang efektif:
Penerapan solusi dilakukan pada saat yang tepat dan dalam urutan yang benar.
Penerapan tidak mengabaikan faktor-faktor yang membatasi dan tidak akan terjadi
sebelum tahap 1, 2, dan 3 dalam proses pemecahan masalah dilakukan.
Penerapan solusi dilakukan dengan menggunakan strategi "sedikit-demi sedikit"
dengan tujuan untuk meminimalkan terjadinya resistensi dan meningkatkan
dukungan.
Proses penerapan solusi meliputi juga proses pemberian umpan balik. Berhasil
tidaknya penerapan solusi, harus dikomunikasikan , sehingga terjadi proses
pertukaran informasi
Keterlibatan dari orang-orang yang akan terkena dampak dari penerapan solusi
dianjurkan dengan tujuan untuk membangun dukungan dan komitmen
Adanya sistim monitoring yang dapat memantau penerapan solusi secara
berkesinambungan. Dampak jangka pendek, maupun jangka panjang diukur.
Penilaian terhadap keberhasilan penerapan solusi didasarkan atas terselesaikannya
masalah yang dihadapi, bukan karena adanya manfaat lain yang diperoleh dengan
adanya penerapan solusi ini. Sebuah solusi tidak dapat dianggap berhasil bila
masalah yang menjadi pertimbangan yang utama tidak terselesaikan dengan baik,
walaupun mungkin muncul dampak positif lainnya.
kemampuan belajar mandiri
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 1 of 9
KEMAMPUAN BELAJAR MANDIRI DAN FAKTOR-FAKTOR PSIKOSOSIAL
YANG MEMPENGARUHINYA: KASUS UNIVERSITAS TERBUKA
Wahyuni Kadarko
Pendahuluan
Pada saat ini, dunia pendidikan tinggi di Indonesia masih diwarnai oleh model
pendidikan konvensional. Situasi ini berpeluang menimbulkan suatu kepincangan sosial
ditinjau dari potensi sumber daya manusia yang ada, kondisi geografis Indonesia yang
luas dan berbentuk kepulauan, dan kompleksitas dampak perubahan. Kepincangan
tersebut adalah daya tampung yang terbatas, tidak demokratis, dan menghambat proses
perubahan sosial. Untuk itu, diperlukan suatu reformasi pendidikan yang mengarah
pada promosi egalitarisme dan demokrasi, yaitu suatu sistem pendidikan massal dan
bukan pendidikan elitis.
Universitas Terbuka (UT) merupakan salah satu perwujudan dari idealisme tersebut,
yaitu terciptanya pemerataan pendidikan dalam arti sosial, politik, ekonomi dan
geografis yang mampu menyentuh kelompok marjinal secara nyata. Dalam pelaksanaan
pendidikan, UT menganut model pendidikan nonkonvensional (nontradisionaal) dengan
sistem "terbuka", merupakan satuan pendidikan tinggi dengan sistem belajar jarak jauh
(distance learning) dan menerapkan cara belajar mandiri (individual learning). Di
samping itu, saat ini UT juga mengemban tugas meningkatkan tenaga terdidik yang
tersebar di seluruh Indonesia guna dapat melanjutkan pendidikannya sambil bertugas,
serta memperluas daya tampung PTN sehingga sejauh mungkin menjangkau calon
mahasiswa dari seluruh tanah air termasuk mereka yang baru lulus SMTA (Statuta UT,
1992).
Berdasarkan pengalaman, penerapan model pendidikan ini belum memperlihatkan hasil
yang memuaskan. Hasil penelitian membuktikan bahwa prestasi belajar yang dapat
dicapai relatif rendah dan sebagian besar mahasiswanya masih mengharapkan jasa
pihak lain seperti tutor atau guru bimbingan dalam menghadapi tugas-tugas perkuliahan
di UT (Kadarko, 1992). Dalam Seminar Prospek UT disampaikan bahwa masalah
pokok dari keadaan tersebut adalah ketidaksiapan mahasiswa UT mengantisipasi
perubahan cara belajar yang didasari prinsip kemandirian dan kebiasaan membaca
(Muis, 1987).
Apabila dikaji kembali, masalah ini timbul akibat ketidakmampuan mahasiswa UT
beradaptasi dengan perubahan mandat, teknologi dan budaya model pendidikan
nonkonvensional, yaitu (a) perubahan model belajar dari terpimpin menjadi independen,
(b) perubahan model komunikasi belajar dari tatapmuka menjadi jarak jauh, (c)
perubahan metode penyampaian materi dari lisan menjadi tertulis, dan (d) perubahan
lingkungan belajar dari campus-based study menjadi home-based study. Akibatnya,
teknologi instruksional yang dilandasi nilai dan asumsi yang berlaku tentang cara
belajar dengan modul dalam sistem perkuliahan jarak jauh masih sulit diadopsi karena
belum dihayatinya metode cara belajar secara mandiri berbasis rumah.
Hal lain yang diidentifikasi sebagai masalah adalah faktor-faktor psikososial yang
diduga mempengaruhi kelangsungan proses belajar mahasisiwa UT. Sistem terbuka
memudahkan intrusi berbagai faktor psikososial terhadap proses belajar yang dijalani
mahasiswa UT pada umumnya. Keadaan ini berdampak pada ketidakmampuan
mengkoordi-nasikan aspek psikososial seperti keluarga, pekerjaan/tugas, fungsi sosial,
lingkungan sosial, dan lain sebagainya sehingga cenderung menimbulkan konflik antara
kebutuhan dengan komitmen sosial (Schuemer, 1993).
Penelitian yang mendasari makalah ini mencoba mengangkat masalah-masalah diatas
dengan harapan dapat diperoleh satu solusi atas masalah belajar yang dihadapi
mahasiswa UT, dan sumbang saran serta gagasan bagi penyempurnaan metode belajar
mandiri dalam sistem pendidikan jarak jauh di Indonesia khususnya UT.
Deskripsi Teoritis, Kerangka Berpikir dan Perumusan Hipotesis
Deskripsi Teoritis
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 2 of 9
Penelitian ini dilandasi tradisi teori-teori perkembangan yang mampu mempengaruhi
pelaksanaan proses belajar jarak jauh dan pendidikan orang dewasa, yaitu teori
perkembangan mental dan relevansinya dengan cara belajar orang dewasa. Secara lebih
luas penelitian ini banyak membahas teori-teori tentang intrusi faktor-faktor psikososial
pada kelompok orang dewasa, teori-teori kognitif strukturalis dalam konteks
perkembangan mental orang dewasa, dan teori-teori tentang belajar mandiri dalam
konteks sistem belajar jarak jauh.
1. Pendekatan Psikosiosial
Pendekatan ini menyarankan bahwa individu berkembang secara kronologis serta sangat
dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan budaya dimana dia hidup ( Erikson, 1968;
Marland, 1989).
Atas dasar tersebut, penelitian ini berupaya mengungkapkan pengaruh psikososial
terhadap proses belajar seseorang yang terjadi dalam suasana "terbuka", jarak jauh, dan
mandiri. Dalam proses belajar yang berlangsung secara wajar, seringkali terjadi
peristiwa yang kontradiktif antara sukses dan gagal, berminat dan apatis, tekun dan
malas, konsisten dan tidak konsisten, mampu dan tidak mampu, disiplin dan tidak
disiplin, dan seterusnya. Menurut teori perkembangan mental, keadaan ini diduga akibat
adanya berbagai proses mental yang terjadi pada diri seseorang yang disebut sebagai
dorongan, kebutuhan, keinginan, dan motif. Hal tersebut merupakan faktor determinan
yang menentukan perilaku belajar orang dewasa. Dalam perkembangan selanjutnya,
proses mental ini akan dipengaruhi oleh berbagai faktor psikososial seperti lingkungan
sosial, budaya konvensional, sumber belajar, dan pengalaman.
2. Pendekatan Kognitif-strukturalis
Pendekatan ini berangkat dari ide Piaget sebagaimana dikutip Henderson (1983) dan
sangat erat kaitannya dengan kemampuan individu memproses informasi yang diterima,
yaitu bahwa (a) struktur kognitif sangat ditentukan oleh pola perilaku (gaya) berpikir,
(b) perkembangan mental merupakan hasil interaksi antara individu dengan
lingkungannya, dan (c) perkembangan mental seseorang bergerak secara progresif
melalui tahapan yang merupakan suatu garis kontinum yang bergerak secara hirarkis di
mana setiap tahapan mewakili cara berpikir yang berbeda.
Struktur kognitif yaitu organisasi, kejelasan dan stabilitas pengetahuan yang dimiliki
seseorang sangat menentukan proses belajar selanjutnya, yakni yang berkaitan dengan
belajar bermakna. Karena itu, kemampuan memproses informasi sangat penting dalam
penerapan praktek belajar mandiri.
3. Belajar Mandiri
Belajar mandiri dalam konteks sistem belajar jarak jauh berdampak pada penggunaan
media belajar. Mediasi bertujuan (a) membebaskan mahasiswa dari pola perkuliahan
reguler, (b) membuka kesempatan belajar sesuai kemampuan, dan (c) membangun suatu
pola instruksional yang membimbing mahasiswa melaksanakan self directed learning
(Wedemeyer, 1979).
Self directed learning mempunyai peran sebagai pemandu perkembangan aktivitas
kognitif, di mana perkembangan tersebut akan dipengaruhi oleh pola perilaku sesuai
tingkat kematangan (kedewasaan) yang dicapai seseorang (Biggs, 1978). Ramsden dan
Entwistle (1981) menerjemahkan pola perilaku tersebut melalui tiga pendekatan belajar
atau orientasi belajar, yaitu (a) pendalaman materi, sebagai suatu cara belajar yang
berorientasi mencari makna, mempertanyakan argumen penulis, menghubungkan
pengetahuan awal dengan pengalaman belajar, mencari kebenaran atas kesimpulan yang
dibuat, (b) reproduksi, sebagai suatu cara belajar menghafal bagian-bagian yang penting
untuk direproduksi sebagai pengetahuan, dan (c) prestasi, suatu cara belajar yang
menekankan pengaturan strategi untuk mecapai tujuan belajar, antara lain mengatur
strategi untuk mencapai prestasi, membangun organisasi (disiplin) belajar, dan
memfokuskan pada tujuan.
Di samping orientasi belajar, strategi belajar juga merupakan pemandu perkembangan
proses belajar, di mana perkembangan ditentukan melalui tahapan-tahapan yang
mewakili cara berpikir yang berbeda. Strategi belajar diterjemahkan melalui penerapan
gaya belajar dalam mengolah informasi (information processing) dan mencegah
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 3 of 9
timbulnya patologi (kebiasaan buruk) yang menghambat proses belajar (Pask, 1977).
Secara genetik, gaya seseorang dalam memproses informasi terbagi dalam dua
kelompok, yaitu holis dan serialis. Kelompok holistik cenderung mengikuti prosedur
belajar komprehensif yang mengarah pada hipotesis kompleks, sedangkan kelompok
serialis (partiest) cenderung mengikuti gaya belajar tahap demi tahap yang mengarah
pada hipotesis sederhana (Pask and Scott, 1972). Dalam penerapannya, pembelajar
sekaligus dituntut untuk (a) menerapkan kedua gaya tersebut dengan tujuan penguasaan
materi secara tuntas, dan (b) mencegah hal-hal yang dapat menghambat proses belajar
atau membasmi patologi belajar, yaitu meninggalkan praktek cara membaca cepat dan
sepintas (globetrotting) dan meninggalkan cara membaca yang terpaku pada detil
(improvidence) (Pask, 1977; Ramsden and Entwistle, 1981).
Determinan yang juga berperan dalam perkembangan proses belajar mandiri adalah
konsep diri. Konsep diri berperan dalam menentukan daya tahan (resistance) seseorang
dalam belajar (Marland, 1989). Penelitian yang dilakukan Asprer (1980) terhadap para
mahasiswa St. Louis di Filiphina mengungkapkan bahwa persepsi yang benar tentang
lingkungan akademik yang berlaku akan menghasilkan konsep diri yang lebih mantap,
di mana selanjutnya konsep diri akan menjadi awal dari kemampuan seorang mahasiswa
dalam (a) memelihara konsistensi dalam belajar, (b) menerjemahkan pengalaman secara
positif dan (c) membangun kepercayaan untuk menggantungkan harapan atas sebuah
cita-cita.
Berdasarkan kajian teori di atas, maka penelitian ini berfokus pada lingkungan
psikososial yang melatarbelakangi kehidupan mahasiswa UT dan perkembangan
struktur kognitif dalam penerapan self directed learning.
Kerangka Berpikir
Penelitian ini bertitik tolak dari praduga bahwa faktor-faktor psikososial dapat
memberikan pengaruh yang nyata terhadap kualitas proses belajar di mana kualitas ini
diterjemahkan sebagai kemampuan menerapkan self directed learning (dalam penelitian
ini digunakan istilah Kemampuan Belajar Mandiri). Kemampuan tersebut dibangun
melalui variabel-variabel orientasi belajar, strategi belajar dan persepsi tentang
lingkungan akademik nonkonvensional (Tabel 1).
Faktor-faktor psikososial meliputi berbagai aspek kehidupan di seputar kehidupan
mahasiswa UT yaitu faktor-faktor yang secara potensial mampu menimbulkan konflik
antara kebutuhan dan komitmen, seperti kematangan diri, lingkungan keluarga,
motivasi, pekerjaan, pengalaman, lingkungan sosial, waktu luang, aktivitas sosial dan
kegiatan belajar. Untuk memperoleh hasil penelitian yang implikatif, maka hanya
faktor-faktor yang dianggap relevan dengan masalah kualitas belajar yang digunakan
yaitu usia, pekerjaan, latar belakang pendidikan dan wilayah tempat tinggal.
Rumusan Hipotesis
1. Kemampuan mahasiswa UT menerapkan konsep belajar mandiri sama dengan
atau lebih kecil dari skor standar kemampuan belajar mandiri (>75%);
2. Terdapat perbedaan kemampuan belajar mandiri yang nyata antarkelompok
variabel usia, status pekerjaan, latar belakang pendidikan dan wilayah tempat
tinggal;
3. Kelompok mahasiswa dewasa dengan status bekerja dan bertempat tinggal di kota
besar mempunyai kemampuan belajar mandiri yang lebih baik dibanding
kelompok lain;
4. Terdapat interdependensi antara persepsi tentang lingkungan akademik
nonkonvensional dengan pendekatan belajar yang ditempuh;
Metodologi Penelitian
Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeteksi distribusi nilai kemampuan
belajar mandiri mahasiswa UT, mengidentifikasi faktor-faktor psikososial yang
mempunyai keterkaitan dengan kemampuan belajar mandiri, mengidentifikasi
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 4 of 9
karakteristik mahasiswa UT yang mampu melaksanakan praktek belajar mandiri, dan
mendeteksi hubungan antar-variabel kemampuan belajar mandiri.
Populasi, Sampel dan Teknik Penarikan Sampel
Populasi penelitian adalah mahasiswa UT. Sebanyak 540 sampel ditarik dari populasi
dengan metode penarikan secara acak dan bertingkat. Data diperoleh melalui survai atas
540 responden melalui kuesioner. Responden dikategorikan ke dalam tiga kelompok
wilayah, yaitu DKI Jakarta (ibukota negara), Kotamadya Ujung pandang (ibukota
propinsi) dan beberapa kecamatan di wilayah pedesaan di bekas Karesidenan Bandung
dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Survai dilakukan antara bulan Oktober – Januari
1993.
Tabel 1. Kisi-kisi Pengembangan Kuesioner
Kemampuan Belajar Mandiri*)
*) diadaptasi dari Ramsden dan Entwistle (1981)
Instrumen Penelitian
Kuesioner dirancang dengan memperhatikan aspek teknis dan kultural. Pendekatan
teknis berkutat pada segi operasionalisasi metode belajar mandiri ditinjau dari dimensi
praktis, yaitu merujuk pada orientasi dan strategi dalam mempelajari modul berbentuk
bacaan (teks). Pendekatan kultural berkutat pada penghayatan nilai-nilai yang
terkandung dari model pendidikan nonkonvensional (Tabel 1).
Variabel Penelitian
Faktor-faktor psikososial sebagai variabel bebas terdiri atas usia, status pekerjaan, latar
belakang pendidikan dan status wilayah tempat tinggal. Kemampuan belajar mandiri
sebagai variabel terikat terdiri atas (a) pemahaman, (b) reproduksi, (c) prestasi, (d)
strategi dan (e) persepsi terhadap lingkungan akademik nonkonvensional yang
dioperasionalkan ke dalam 7 variabel (Tabel 1).
Pengujian Hipotesis
Teknik analisis yang digunakan adalah analisis skor-Z, analisis variansi, uji Student-t
dan uji Kai Kuadrat pada taraf nyata 0.05.
Uji Z dilakukan untuk melihat distribusi nilai kemampuan belajar mandiri dibandingkan
dengan skor standar yang telah ditentukan. Uji F dilakukan untuk mencari perbedaan-
perbedaan kemampuan belajar mandiri antar kelompok variabel bebas. Uji Student-t
dilakukan untuk mengetahui kelompok mana yang memiliki kemampuan belajar
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 5 of 9
mandiri tertinggi di antara kelompok variabel bebas yang diteliti. Uji Kai-Kuadrat
dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat interdependensi antara variabel persepsi
terhadap lingkungan akademik nonkonvensional dengan orientasi atau pendekatan
belajar yang ditempuh. Analisis frekuensi terhadap distribusi kemampuan belajar
mandiri dan persepsi juga dilakukan sebagai pelengkap.
Analisis Data dan Temuan Penelitian
1. Hasil analisis skor-Z pada taraf nyata 5% menunjukkan bahwa skor kemampuan
belajar mandiri yang dicapai responden tidak sama dengan skor baku 72 dengan asumsi
bahwa standar minimal nilai Kemampuan Belajar Mandiri adalah 75% dari nilai
maksimal 96.
Hasil analisis rata-rata populasi menunjukkan nilai Zhitung (-8,48) berada di luar wilayah
penerimaan (<-2,264 dan >2,264). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan belajar
mandiri mahasiswa UT berada di bawah standar yang digunakan (Hipotesis 1 diterima)
atau mahasiswa UT belum melakukan pendekatan belajar yang berlaku di lingkungan
akademik nontradisional. Keadaan ini merupakan gambaran akan ketidakmampuan
menterjemahkan tradisi serta ide sebuah universitas terbuka seperti kemandirian dan
sistem belajar jarak jauh (nontatapmuka). Akibatnya prosedur belajar yang seharusnya
merupakan gabungan antara pendekatan teknis dan kultural tidak mampu dijalankan.
2. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa usia, status pekerjaan, status wilayah tempat
tinggal memberikan pengaruh yang nyata terhadap kemampuan belajar mandiri.
Secara sendiri-sendiri, hasil analisis variansi menunjukkan terdapat perbedaan
kemampuan belajar yang nyata antarkelompok usia, status pekerjaan, dan status wilayah
tempat tinggal, tetapi tidak terdapat perbedaan kemampuan belajar yang nyata di antara
kelompok latar belakang pendidikan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor
usia, status pekerjaan dan status wilayah tempat tinggal memberikan sumbangan yang
nyata terhadap variansi kemampuan belajar mandiri, yaitu kemampuan menerapkan
orientasi dan strategi dalam mempelajari modul serta kemampuan memahami
lingkungan akademik nonkonvensional (Hipotesis 2 diterima). Selanjutnya secara
bersama-sama, faktor-faktor psikososial memberikan pengaruh yang nyata terhadap
kemampuan belajar mandiri. Dengan demikian faktor-faktor psikososial yang
melatarbelakangi perkembangan proses belajar mandiri yang berlangsung dalam
suasana ‘terbuka’, mandiri, jarak jauh dan independen mempunyai peran yang besar
terhadap keberhasilan belajar di UT. Perbedaan latar belakang pendidikan (X3) tidak
memberikan pengaruh yang nyata terhadap seluruh variabel Kemampuan Belajar
Mandiri yaitu, pemahaman, reproduksi, prestasi, strategi, dan persepsi.
Tabel 2. Hasil Analisis Variansi Antara Variabel-Variabel
Latar Belakang Psikososial (Y) vs Variabel-Variabel
Kampuan Belajar Mandiri (X)
Ini menunjukkan bahwa dalam konteks penelitian ini, latar belakang pendidikan tidak
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 6 of 9
mempunyai peranan yang cukup berarti, baik terhadap pola pendekatan dalam belajar
maupun terhadap persepsi tentang lingkungan akademik nonkonvensional.
3. Pooled estimate of variance
Pooled estimate of variance melalui uji Student-t menunjukkan bahwa nilai kemampuan
belajar mandiri kelompok usia > 40 tahun yang mempunyai pekerjaan tetap dan
bertempat tinggal di wilayah urban lebih tinggi dibandingkan kelompok lain (Tabel 3).
Tabel 3. Pendugaan Antar-Kelompok Variabel
dengan Uji Student-t
Temuan ini menunjukkan bahwa sebuah universitas terbuka seperti UT lebih sesuai bagi
kelompok orang dewasa yang mempunyai komitmen dengan pekerjaan dan tugas.
Besarnya kontribusi tersebut bersumber pada asumsi sosial-psikologis dari kelompok
yang sudah bekerja, yaitu (a) keterikatan dan tanggung jawab pada pekerjaan atau tugas,
(b) relevansi antara mata kuliah dengan karier, jabatan atau kegiatan sehari-hari, dan (c)
kejelasan tujuan dan target belajar serta standar akademik.
Faktor-faktor ini mendorong kelompok dewasa memanfaatkan keuntungan sistem
perkuliahan model nonkonvensional, seperti adanya kebebasan (kalender) akademik,
waktu dan tempat perkuliahan (kelas), media, tidak ada batasan usia, status sosial,
batasan administratif, hambatan politis dan batasan geografis.
Di lain pihak, bagi kelompok lulusan SLTA, keuntungan tersebut makin menjadikan
beban dan tanggung jawab yang berat, karena dirasakan waktu belajar banyak tersita
hanya untuk membaca, tujuan yang belum jelas dan perasaan terisolasi (Ramsden,
1979).
4. Uji Kai-kuadrat menunjukkan bahwa terdapat interdependensi yang nyata antara
beberapa variabel persepsi tentang lingkungan akademik nonkonvensional
(nontradisional) dengan orientasi belajar.
Terdapat interdependensi antara belajar yang berorientasi pada pemahaman materi
dengan relevansi vokasional antara belajar yang berorientasi pada reproduksi dengan
beban belajar atau bacaan dan antara belajar yang berorientasi pada prestasi dengan
kejelasan tujuan dan standar (Tabel 4).
Tabel 4. Hasil Uji Kai-Kuadrat Orientasi Belajar Vs. Subvariabel Persepsi
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 7 of 9
Hasil uji di atas menunjukkan bahwa dalam mempraktekkan belajar mandiri kelompok
yang menempuh pendekatan pemahaman materi (meaning oriented) berpendapat bahwa
tujuan belajar adalah mendalami suatu cabang ilmu pengetahuan sesuai dengan minat,
pekerjaan, tugas, maupun profesi yang ditekuni. Kelompok yang menempuh pendekatan
reproduksi materi (reproduction oriented) berpendapat bahwa belajar terasa sangat
melelahkan dan membosankan karena sarat dengan tugas-tugas bacaan yang harus
dihafal karena keterikatan pada silabus. Sedangkan kelompok yang hanya mengejar
prestasi (achievement oriented) berpendapat bahwa yang penting adalah mampu
memanfaatkan sumber-sumber belajar secara maksimal untuk mencapai tujuan, yaitu
penyelesaian tugas-tugas perkuliahan dan pengakuan formal yang berguna bagi
peningkatan karier atau promosi.
Selain itu, terlihat tidak ada saling ketergantungan antara strategi belajar dengan metode
pengajaran nonformal. Ternyata strategi belajar, yaitu gaya belajar (holistik dan
serialistik) dan pencegahan patologi belajar (globetrotting dan improvidence) tidak
mempunyai hubungan yang signifikan dengan penerapan belajar mandiri. Hal ini
membuktikan bahwa teknik membaca para mahasiswa UT masih kurang canggih.
5. Distribusi data hasil pengukuran persepsi tentang lingkungan akademik
nonkonvensional (nontradisional) menunjukkan bahwa 15,4% responden menjawab
sangat setuju, 24,4% menjawab setuju, 39,4% responden menjawab tidak setuju, dan
20,8% responden menjawab sangat tidak setuju.
Temuan ini membuktikan bahwa kognisi tentang sistem perkuliahan nonkonvensional
masih rendah. Interprestasi dari temuan ini adalah bahwa sistem perkuliahan di UT
dianggap tidak berbeda jauh dengan sistem universitas konvensional, yaitu bahwa
kelompok ini masih mendambakan pertemuan tatapmuka dengan ‘dosen’, belum mampu
memanfaatkan media instruksional dalam pelaksanaan belajar mandiri, masih ingin
meluangkan waktu untuk bersosialisasi di kampus, dan tidak melihat pentingnya
dukungan sumber belajar lain seperti media. Perilaku yang demikian ini menunjukkan
bahwa kelompok ini belum mempunyai konsep yang jelas tentang lingkungan akademik
nonkonvensional.
Keadaan ini bersumber dari langkah-langkah ‘deregulasi akademik’ yang diberlakukan
di UT, yaitu cenderung memberlakukan praktek konvensional dalam kegiatan belajar.
Misalnya, kemiripan praktek tutorial dengan kuliah tatapmuka, kehadiran suasana
kampus konvensional, dan peranan multi-media belum dimanfaatkan secara maksimal.
Akibatnya kelompok ini makin berpeluang menghayati hakikat sistem perkuliahan yang
dilandasi asas kemandrian, ‘jarak jauh’, dan dukungan sumber belajar (media belajar).
Temuan ini memberikan implikasi akan pentingnya pembakuan sistem perkuliahan UT
dalam konteks sistem pendidikan nonkonvensional (jarak jauh) yang menekankan
keseimbangan antara sikap dan perilaku belajar mandiri, lingkungan akademik
nontradisional, dan dukungan sumber belajar (media) belajar.
Kesimpulan, Implikasi dan Saran
Kesimpulan
Sebagian besar mahasiswa UT belum mampu menerapkan self-directed learning yang
melandasi penerapan konsep belajar mandiri sistem perkuliahan jarak jauh (nilai rata-
rata kemampuan belajar mandiri jarak jauh di bawah skor baku, yaitu 75% nilai
maksimum). Hal ini menujukkan bahwa pada umumnya mahasiswa UT belum
menghayati hakikat lingkungan akademik nonkonvensional (nontradisional) dalam
upaya membangun persepsi yang benar tentang lingkungan akademik nonkonvensional.
Kelompok ini belum mampu melakukan perubahan sikap dan perilaku belajar dari sikap
dan perilaku belajar tradisional yang berbasis kampus (campus based) menjadi sikap da
perilaku nontradisional dengan basis rumah (home based study). Kesulitan belajar masih
merupakan kendala utama bagi mahasiswa UT, terutama kelompok lulusan SLTA,
karena sama sekali di luar paradigma pendidikan orang dewasa (andragogik) yang
melandasi sistem pendidikan sebuah UT. Faktor-faktor psikososial, yaitu tingkat
kematangan (kedewasaan), status pekerjaan, dan status wilayah tempat tinggal
tampaknya mempunyai peranan yang menentukan dalam pengembangan self-directed
learning.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa menjalani kuliah/studi di sebuah UT tidak
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 8 of 9
cukup hanya ditegakkan melalui pendekatan teknis, yaitu teknik penguasaan materi
perkuliahan melalui prosedur yang sudah diatur. Tetapi, hendaknya digunakan juga
pendekatan kultural melalui penghayatan nilai-nilai budaya sebuah universitas
nonkonvensional.
Implikasi
Hasil penelitian memberikan implikasi akan pentingnya peninjauan kembali (a)
kebijaksanaan institusional yang melibatkan kepentingan kelompok orang muda dan
konsistensi sistem pendidikan dalam rangka menghilangkan kesan standar ganda yang
dianut UT dalam pelaksanaan pendidikan, (b) peninjauan kembali metode instruksional
untuk meningkatkan kualitas belajar mahasiswa, dan (c) peninjauan kembali desain
kurikulum yang dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif.
Saran-saran
Sebagai sebuah lembaga pendidikan yang membawa misi pemerataan pendidikan serta
berpegang pada paradigma pendidikan untuk orang dewasa, maka disarankan hal-hal
sebagai berikut:
a. Hendaknya UT mensosialisasikan sikap dan perilaku belajar sesuai dengan
lingkungan akademik nonkonvensional, berdasarkan temuan adanya keterkaitan
antara persepsi dengan pendekatan belajar, dalam rangka mengembangkan citra
UT sebagai satu-satunya PTN nonkonvensional.
b. Memberikan bantuan yang nyata dalam rangka mengatasi kesulitan belajar
terutama kelompok mahasiswa muda (lulusan SLTA), karena penerapan metode
instuksional yang dirancang berdasarkan asumsi andragogik bagi kelompok yang
masih memerlukan penanganan berdasarkan asumsi pedagogik secara moral
kurang dapat dipertanggungjawabkan. Bantuan tersebut dapat melalui program
bimbingan learning how to learn melalui peningkatan kemampuan belajar mandiri
berdasarkan konsep self-directed learning dan membangun persepsi yang benar
tentang lingkungan akademik nonkonvensional.
c. Untuk memperluas jangkauan generalisasi dan prediksi, perlu dilakukan penelitian
lanjutan yang melibatkan variabel-variabel yang belum tercakup dalam penelitian
ini, dan perlu dibuat alternatif penelitian dengan metode kualitatif-etnografis
terutama menyangkut sikap dan perilaku mahasiswa (consumer’s psychology),
karena masih banyak fenomena yang tidak dapat ditangkap melalui indera
kuantitatif.
Referensi
Asprer, Y.M.M. (1980). The self-concepts as a Filipino self-social construct:
Exploration, analysis and implication. Baguio City: St. Louis Univ. Press.
Biggs, J.B. (1978). Individuals dan groups differences in study process. British Journal
of Educational Psychology, 48, 266-279.
Depdikbud. (1984). The Indonesian Open Learning Institute. Unpublished manuscript.
Dekdikbud/UNDP/World Bank.
Dekdibud. (1992). Statuta Universitas Terbuka. Jakarta: Penerbitan UT.
Erikson, E.H. (1968). Identity: Youth and crisis. London: Faber & Faber.
Henderson, E.S. (1983). Theoritical perspectives on adult education. In E.S. Henderson
and M.B. Nathenson (Eds.), Independent Learning in Higher Education. Milton Keynes:
The Open Univ. Press.
Kadarko (1992). Belajar mandiri dalam konteks pendidikan jarak jauh: suatu usaha
untuk mencari pola pendekatan belajar yang efektif dalam menempuh studi di
universitas terbuka. Jakarta: Fakultas Pasca Sarjana IKIP Jakarta.
Marland, P.. (1989). An Approach to research on distance learning. Brit. J. of Ed. Tech.,
20,173-182.
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Jurnal PTJJ Volume 1.1/Kemampuan Belajar Mandiri dan Faktor-faktor Psikososial yang ... Page 9 of 9
Muis, A. (1987). UT, Universitas canggih di tengah masyarakat agraris. Seminar
Prospek Universitas Terbuka. Jakarta: Penerbitan Universitas terbuka.
Pask,G.,& Scott, B.C.E. (1972). Learning strategies and individual competence.
International Journal of Man-Machine Studies, 4 (3), 217-253.
Pask, G. (1977). Styles and strategies of learning. British Journal of Educational
Psychology, 46, 126-148.
Ramsden, P. and Entwistle, N.J. (1981). Effects of academic department on
students’approaches to studying, Brit.J. Ed. Tech.,51, 368-383.
Schuemer, R. (1993). Some psychological aspects of distance education. Hagen:
Zentrales Institu fur Fernstudien Frschung (ZIFF).
Wedemeyer, C.A. (1979). Criteria for constructing a distance education system.
Canadian J. Univ. Continuing Ed. VI, 6 (1), 9-17.
http://lppm.ut.ac.id/ptjj/11/11wahyuni.htm 8/13/2010
Langganan:
Postingan (Atom)